DONGKRAK Nyali Rider Blora di SIRKUIT REGIONAL


DWS Road Race Diusung Jadi “Jalur Resmi” Lawan Balap Liar

BLORA, GALAKSI-TV.COM :  Upaya menekan balap liar sekaligus membina pembalap muda di Blora kini diarahkan ke satu kata kunci: ruang resmi. Melalui DWS Road Race, IMI (Ikatan Motor Indonesia) Blora menempatkan balap motor bukan lagi sebagai euforia sesaat, melainkan sistem pembinaan berjenjang menuju Pra-Porprov, Porprov, hingga level profesional.

Namun, di balik semangat itu, ada persoalan yang tidak bisa ditutup-tutupi: Blora belum punya sirkuit permanen dan jam terbang atlet masih kalah, sementara daerah lain sudah melaju dengan fasilitas dan dukungan anggaran yang lebih kuat.

Narsum Podcast Galaksi TV Sport mengulik gelaran Road Race DWS 2026 Blora

Ketua IMI Blora Adiria, yang juga anggota DPRD Blora menegaskan, DWS Road Race dirancang sebagai jawaban konkret agar energi balap tidak tumpah ke jalan umum. “Kita siapkan jenjangnya. Dari lokal, karesidenan Pati, provinsi sampai nasional. Juara-juara nanti kita dorong naik ke tingkat Porprov hingga profesional,” tegas Adiria dalam Podcast Galaksi TV Sport yang pandu : Bambang Sartono dan Roy Kurniadi.

Dalam Podcast yang digelar di Studio Podcast Satlantas Polres Blora juga menghadirkan Ipda Pol Hadi Sutomo, Kanit Keamanan dan Keselamatan Satlantas Blora

Dipaksa Naik Kelas

Tahun ini, DWS Road Race disebut terintegrasi dengan Pra-Porprov dengan sekitar 30 kelas. Spektrum kelasnya lebar dari kelas lokal, karesidenan, provinsi, hingga open tingkat nasional. Bahkan, IMI Blora membuka kelas khusus atas permintaan pembalap dari Bojonegoro dan Tuban.

Di atas kertas, desain kelas yang berjenjang ini penting karena memberi jalur naik yang bisa diukur: siapa yang menang di level lokal, harus diuji di level residensi; yang siap provinsi, diarahkan ke target Porprov yang konsisten, didorong ke level profesional. “Model seperti ini yang selama ini kerap hilang ketika balap hanya berhenti sebagai event tahunan tanpa peta karier, ‘’ tandas Adiria.

Adiria mengakui Blora masih berada pada fase yang rawan: punya bibit, tetapi belum punya ekosistem latihan yang memadai. Ia menyebut ada sekitar enam bibit pembalap yang dinilai sudah bagus, tetapi “jam terbang mereka kurang karena belum memiliki sirkuit latihan tetap.”tambahnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik telak untuk realitas olahraga otomotif di daerah: tanpa lintasan permanen, latihan sering bergantung pada momentum event, dan atlet dipaksa berkembang dalam ruang yang terbatas. “Akibatnya, daya saing di level regional akan terus timpang bukan karena mental rider kurang, tetapi karena infrastruktur pembinaan tidak memberi kesempatan latihan yang konsisten, ujar politisi Gerinda Blora ini.

Adiria membandingkan dengan daerah lain seperti Boyolali, Semarang, Demak, Klaten, hingga Banyumas yang disebut sudah memiliki sirkuit permanen serta dukungan anggaran lebih besar. Perbandingan ini penting karena menunjukkan gap yang nyata: pembinaan bukan hanya soal niat, tetapi soal fasilitas dan pembiayaan yang berkelanjutan.

Dua Arah Kebijakan

Kasatlantas Blora AKP Anggito Erry Kurniawan memamaparkan dalam konteks program, keterlibatan Satlantas menandai bahwa isu balap tidak bisa hanya dibahas sebagai olahraga, tetapi juga ketertiban dan keselamatan jalan raya.

“Secara prinsip, balap liar tumbuh karena tidak ada ruang aman yang diakui, ketika ruang itu dibuka melalui event resmi dan pembinaan, maka penertiban punya “pasangan kebijakan” yang logis: bukan hanya menindak, tetapi juga mengarahkan, ‘’ jelas Anggito.

Anggito menambahkan, efektivitasnya bergantung pada kesinambungan. Jika event resmi hanya hadir sesekali sementara latihan tidak punya rumah tetap, maka sirkulasi masalah bisa kembali: minat tinggi, ruang resmi terbatas, jalan umum kembali jadi pelampiasan.

Cari Sirkuit

Menjawab soal lintasan latihan, Adiria mengatakan IMI Blora membuka peluang pemanfaatan beberapa titik yang dinilai memadai secara lahan dan permukaan yaitu pertama Kawasan Bandara Ngloram dan opsi lahan parkir stadion yang direncanakan di kawasan lapangan golf, yang dikatakan punya lahan luas dan beraspal

“Ini masih berupa peluang, bukan keputusan. Tetapi arah gagasannya jelas: Blora butuh ruang latihan yang representatif, minimal untuk pembinaan rutin, lebih ideal jika bisa naik menjadi fasilitas event yang stabil, ‘’ jelas Legislator di DPRD Blora.

Adiria menyebut penyelenggaraan event membutuhkan biaya besar, terutama untuk perizinan dan penataan lingkungan. Pada saat yang sama, ia menilai dampak ekonominya signifikan bagi UMKM dan masyarakat sekitar. “Disnilah kebijakan daerah biasanya diuji: apakah Pemkab hanya melihat event sebagai biaya, atau sebagai bagian dari ekonomi keramaian yang bisa dikelola, diukur, lalu dijadikan alasan investasi fasilitas.

Adiria memastikan tingginya antusiasme peserta dan penonton akan dilaporkan ke IMI Pusat serta kementerian terkait sebagai dasar pengajuan dukungan lanjutan dengan target jangka panjang: melahirkan pembalap profesional dan mendorong Blora menjadi salah satu pusat otomotif di Jawa Tengah.

Kurangnya Sistem

Untuk  “mendongkrak nyali rider Blora” tidak cukup jika hanya berhenti pada panggung event. Nyali butuh sistem: lintasan latihan, kalender pembinaan, dukungan anggaran, dan koordinasi lintas instansi. DWS Road Race sudah menunjukkan bentuk jalurnya, tinggal pertanyaan paling menentukan: apakah Blora berani menutup ketertinggalan (@bangsar26)

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *