
RILIS INDEKSTAT menampilkan jurang elektabilitas yang lebar: Gerindra di puncak 33,7%, sementara PKB 7,0% dan PDIP 7,8% jauh tertinggal. PKB merespons dengan ucapan terima kasih atas kepercayaan publik, tetapi angka itu juga memaksa partai-partai satu digit bercermin: tanpa lompatan strategi, peta 2029 berpotensi terkunci sejak sekarang.
Ketika satu partai sudah menyentuh 33,7% dalam simulasi top of mind, sementara partai-partai besar lain tertahan di satu digit, yang muncul bukan sekadar “peringkat survei”. Yang muncul adalah indikasi ketimpangan kompetisi: efek kekuasaan, efek figur, dan rapuhnya basis partai-partai lain yang belum berhasil mengunci narasi dan loyalitas pemilih menuju 2029.

Dalam survei Indekstat (11–25 Januari 2026; 1.200 responden di 38 provinsi; multistage random sampling; MoE ±2,9%), puncak elektabilitas ditempati Gerindra 33,7%, disusul PDIP 7,8%, lalu PKB 7,0%.
Di sisi PKB, respons yang mengemuka dalam materi komunikasi yang beredar di kanal resmi jaringan PKB (unggahan akun DPW PKB DKI, misalnya) menonjolkan pesan sederhana: ucapan terima kasih atas kepercayaan publik kepada PKB.
Namun, justru di titik itulah pertanyaan tajamnya: apakah PKB sedang “naik”, atau sekadar “bertahan” di klaster satu digit saat kompetisi makin ditentukan oleh figur dan efek pemerintahan?Data yang membuat peta timpang
Indekstat mengaitkan peta elektoral dengan variabel “mood” publik terhadap pemerintah: kepuasan pada Prabowo–Gibran 79,2%, persepsi positif pada kinerja pemerintah pusat 85,8%, dan optimisme 82,6%.
Dalam situasi kepuasan tinggi, “bonus” elektoral lazim mengalir ke partai yang paling identik dengan pusat kekuasaan.
Itu menjelaskan mengapa angka puncak bisa jauh meninggalkan yang lain, tetapi juga menjelaskan mengapa partai lain (termasuk PKB) menghadapi kompetisi yang tidak simetris. Indekstat juga menyebut alasan memilih partai banyak digerakkan faktor non-programatik: faktor psikologis 48,1%, dan secara spesifik ketertarikan pada figur calon 27,9%. Di saat yang sama, 72,0% pemilih mengaku sudah mantap dengan pilihannya.
Artinya, perebutan suara tidak terjadi di ruang yang longgar: partai harus merebut pemilih yang sudah “mengunci” preferensi, atau memindahkan preferensi itu lewat figur/isu yang sangat kuat.
Sisakan PR Berat

Ucapan terima kasih PKB atas kepercayaan publik (yang muncul dalam materi komunikasi internal/akun jejaring PKB) adalah framing yang efektif untuk menjaga moral kader dan menegaskan legitimasi sosial.
Namun secara aritmetika politik, 7,0% (top of mind) menempatkan PKB dalam zona “rawan goyang”: sedikit pergeseran isu nasional atau kompetisi figur antarelite bisa menurunkan atau menaikkan posisi tanpa mengubah struktur puncak.
Lebih problematik lagi, Indekstat pada rilis lain juga menunjukkan versi elektabilitas tertutup: Gerindra 37,0%, PDIP 7,9%, dan PKB 7,7%. Perbedaan “top of mind” vs “tertutup” ini penting: top of mind menguji spontanitas merek partai; tertutup menguji preferensi saat pemilih diberi daftar.
Bila selisih PKB (7,0 → 7,7) membesar pada pertanyaan tertutup, itu mengisyaratkan basis yang ada cukup nyata, tetapi brand recall spontan masih perlu diperkuat.
Masih Jadi Perdebatan
Dari kubu Gerindra, Bendahara DPP Gerindra Mohamad Hekal menilai paparan Indekstat memberi sinyal kebijakan pemerintah “cukup benar dijalankan”, dan ia menegaskan survei menjadi kanal untuk menangkap penilaian publik serta bahan evaluasi internal—termasuk mempertajam program-program partai.

Namun survei ini juga memantik kritik. Dalam forum paparan yang sama (disiarkan Indekstat), Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus disebut menilai ada aspek yang patut dipertanyakan terkait metodologi maupun penyajian hasil survei.
Kritik semacam ini lazim muncul ketika hasil survei menghasilkan gap ekstrem—bukan karena gap itu mustahil, tetapi karena publik menuntut transparansi desain sampel, instrumen, serta konsistensi penyajian.
Catatan analitis: PKB dapat “mandat kepercayaan”, tetapi 2029 menuntut lompatan yang berbeda jenis
Jika Indekstat benar bahwa pemilih makin digerakkan figur dan sebagian besar pemilih sudah mantap, maka strategi PKB untuk 2029 tidak cukup hanya “mengamankan basis tradisional”. Tantangannya adalah membuat PKB hadir sebagai pilihan spontan (top of mind), bukan sekadar pilihan saat daftar partai disodorkan
Ucapan “terima kasih” dari PKB adalah tanda percaya diri, tetapi angka 7,0% juga dapat dibaca sebagai peringatan: peta tidak sedang kompetitif secara merata, peta sedang timpang, dan ketimpangan itu akan terus membesar bila partai-partai satu digit gagal membangun diferensiasi yang mudah dipahami publik di luar basisnya.

