KARANGJONG Menjaga NAFAS DESA dari Tebu


Bertahan dengan Menyatukan Petani, Koperasi, dan Pasar Tebu

NGAWEN, GALAKSI-TV.COM – Saat dana desa tidak lagi seleluasa dulu, Desa Karangjong, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, mencari cara bertahan dengan bertumpu pada sesuatu yang paling dekat dengan warganya: lahan dan kerja tani.

Sugiyono, Kepala Desa Karangjong, mengambil pilihan yang jelas, memaksimalkan sektor tebu sebagai penyangga ekonomi desa. Di Karangjong, tebu bukan sekadar komoditas musiman; ia menjadi “tali hidup” banyak keluarga petani.

Kades Karangjong Sugiyono bersama Ketua KDMP Karangjong Pujianto

Dari data di tingkat desa menunjukkan hamparan tebu Karangjong berada pada kisaran 1.000  hingga 1.500 hektare lebih. Angka ini menggambarkan satu hal: skala tebu Karangjong memang besar, dan menjadi basis ekonomi utama warga.

Di saat sektor pertebuan Blora belakangan berguncang akibat berhentinya giling Pabrik Gula PT GMM (Gendhis Multi Manis) Todanan, Sugiyono memilih tidak larut dalam kecemasan. Jalur pemasaran disiapkan: ada mitra penampung, dan juga gudang besar di Kunduran yang diposisikan untuk membeli, menampung, lalu menyalurkan tebu ke pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di sinilah strategi desa menjadi konkret: Karangjong tidak menunggu keadaan membaik, tetapi membangun sistem penyangga sendiri.

Tebu sebagai Jangkar

Sugiyono menyiapkan rangka atap Gedung KDMP Karangjong

Bagi Sugiyono, pertanyaan paling mendasar sekarang,  bukan “berapa bantuan yang turun”, melainkan “apa yang bisa dihidupkan dari potensi desa sendiri”. Tebu dipilih bukan karena tren, tetapi karena realitas sosial-ekonomi: mayoritas warga adalah petani, dan tebu sudah lama menjadi komoditas yang mereka pahami, dari tanam, tebang, hingga jual.

Krisis giling PT GMM memang membuat rantai pasok tebu di Blora tidak nyaman. Namun, Karangjong mencoba memutus titik rapuhnya: ketergantungan pada satu saluran serapan. Ketika serapan harus dipastikan, gudang dan kemitraan menjadi instrumen.

Narasi Sugiyono sederhana: desa harus berani memastikan pasar, kalau tidak, petani akan menanggung risiko paling berat.Pekerjaan besar Karangjong saat ini bukan hanya menyiapkan jalur penjualan, tetapi juga membangun kelembagaan ekonomi desa melalui KDMP.

Menurut Pujianto, Ketua KDMP Desa Karangjong, menyebut pembangunan gudang tengah berjalan, sekaligus menyiapkan operasional usaha koperasi yang akan menyentuh dua lapis kebutuhan: program pemerintah dan pemberdayaan desa.

Gudang dan Gerai KDPM Karangjong sendiri dibangun sejak 10 Desember dan kini progres  mencapai sekitar 45 persen, ditarget rampung Februari–Maret meski hujan Januari memperlambat pengerjaan.

Di saat yang sama, KDMP Karangjong dipacu menjadi sandaran petani. Bagi warga Karangjong, tebu bukan sekadar tanaman. Tebu adalah kalender hidup: kapan mulai tanam, kapan siap tebang, kapan harus cepat dijual agar nilai tidak turun.

Di desa yang sebagian besar penduduknya petani, satu musim yang kacau bisa memukul dapur banyak rumah sekaligus. Itulah sebabnya gejolak sektor gula di Blora tidak dibaca Sugiyono sebagai kabar di luar sana, melainkan sebagai risiko yang harus segera ditutup dari dalam.

Namun sistem tidak cukup hanya dengan gedung. Sistem harus menutup “lubang” yang sering menguras pendapatan petani saat musim panen: tebang dan angkut. Pujianto, Ketua KDMP Karangjong, menyebut koperasi menyiapkan dua truk dan juga mengonsolidasikan tenaga penebangan. Ini bukan tambahan kecil.

Dalam praktiknya, keterlambatan tebang atau sulitnya angkut sering menjadi biaya tersembunyi yang diam-diam memotong keuntungan petani. Karangjong mencoba merapikan itu dari hulunya.

KDMP juga tidak berdiri hanya untuk tebu. Struktur usaha koperasi dirancang melebar ke kebutuhan yang dekat dengan hidup petani sehari-hari. Selain mengelola program yang terkait pusat, KDMP mendorong pemberdayaan desa: menampung hasil panen petani, termasuk padi dan jagung yang juga menjadi komoditas mayoritas.

Untuk padi, Karangjong membaca problem yang berulang: padi yang masih basah sering sulit langsung masuk jalur penyerapan resmi. Maka koperasi merancang proses pengeringan di gudang, agar petani tidak dipaksa menjual dalam kondisi yang merugikan.

Di sisi lain, koperasi juga diarahkan menangani perputaran barang kebutuhan yang disubsidi pemerintahseperti gula, minyak goreng, pupuk, gas, dan kebutuhan sejenis. Bagi desa, ini bukan sekadar urusan jual beli. Ini adalah strategi menjaga biaya hidup warga agar tidak terpental saat harga di luar bergerak liar.

Sesuai Spesifikasi

Jaga kualitas bangunan KDPM Karangjong dengan spesifikasi standart gambar konsultan KDMP

Sugiyono menekankan bahwa pembangunan KDMP bukan proyek “bangunan megah”. Ia ingin gudang dan gerai menjadi ruang kerja yang menyatu dengan masyarakat: mengelola potensi yang memang sudah hidup di Karangjong, terutama tebu.

Karena itu, ia menegaskan kualitas bangunan harus dijaga ketat sesuai spesifikasi, tidak boleh ada pengurangan volume maupun mutu. Bahkan, sejak awal pengurus disebut intens mencari material yang dibutuhkan agar tidak tersendat, termasuk material besi yang belakangan sulit dan harganya melambung.

Faktor alam tetap menjadi ujian. Hujan di Januari membuat pengerjaan fisik melambat. Tetapi target tidak berubah: selesai Maret, bahkan dikejar agar bisa rampung Februari. Di titik ini, keteguhan Sugiyono tidak tampak dari kata-kata besar, melainkan dari disiplin memastikan proyek berjalan, karena ia paham, gudang ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah bentuk perlindungan terhadap kerja petani.

Lebih jauh, Sugiyono juga bicara soal pembiayaan kebutuhan petani: dari pemodalan hingga bibit. Intinya satu: panen tebu masyarakat harus punya kepastian ditampung oleh koperasi, lalu dijualkan ke pabrik. Jika skema ini berjalan, posisi petani berubah. Mereka tidak lagi menjadi pihak yang selalu menunggu kemurahan pasar, tetapi menjadi bagian dari sistem desa yang punya jalur dan pegangan.

Karangjong sedang menulis pelajaran yang sederhana, tetapi keras: ketika dana menyusut, desa tidak boleh ikut melemah. Ketahanan hidup tidak dibangun dari janji, melainkan dari rantai kerja yang jelas, dari lahan, panen, gudang, angkut, tebang, hingga serapan ke pabrik.

Dan di tengah gonjang-ganjing sektor gula Blora, Sugiyono memilih menjaga marwah Karangjong dengan cara paling sunyi: memastikan desa tetap hidup lewat tebu (@bangsar26)

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *