
BLORA, GALAKSI-TV.COM : Penguatan budaya politik berdemokrasi tak bisa lagi sekadar seremoni. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Tengah menegaskan pentingnya demokrasi yang inklusif, bermoral, dan berpihak pada rakyat. Hal itu mengemuka dalam kegiatan FGD (Focus Group Discussion), bertajuk “Budaya Politik Berdemokrasi ” di Gedung Sekretariat Daerah Pemkab Blora, Sabtu (28/2/2026).

Kegiatan yang dimoderatori Kepala Kesbangpol Kabupaten Blora, Sujiyanto, menghadirkan dua narasumber anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, H. Abdullah Aminudin dari Komisi B dan Maya Fauruza Niken dari Komisi D. Forum ini menjadi ruang dialog terbuka mengenai penguatan nilai demokrasi Pancasila serta urgensi peran perempuan dalam politik.
Dalam paparannya bertema “Peran Perempuan di Dalam Politik, Niken Mayasari menegaskan bahwa politik tidak boleh lagi dipersepsikan sebagai ruang eksklusif laki-laki. Partisipasi perempuan, tegasnya, bukan sekadar memenuhi kuota, melainkan fondasi penting bagi demokrasi yang kuat dan responsif.
“Setiap keputusan politik akan lebih baik jika melibatkan perspektif dari setengah populasi dunia,” tandas Niken.
Menurut politisi perempuan PKB kelahiran Grobogan ini, perempuan mewakili setengah dari total populasi. Tanpa keterlibatan aktif mereka, kebijakan publik berpotensi timpang dan tidak sepenuhnya mencerminkan aspirasi masyarakat. Ia menyoroti sejumlah isu krusial yang sering terpinggirkan dalam politik yang maskulin, seperti kesehatan reproduksi, kekerasan berbasis gender, perlindungan anak, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga.

Lebih jauh, Niken menyampaikan bahwa keterlibatan perempuan mampu meningkatkan kualitas demokrasi. Proses pengambilan keputusan menjadi lebih transparan, kolaboratif, serta berorientasi pada integritas. Ia juga menekankan pentingnya gaya kepemimpinan inklusif dan empatik yang banyak ditunjukkan oleh pemimpin perempuan.
Wakil Rakyat Gedung Berlian dari Dapil Grobogan-Blora ini, memetakan berbagai bentuk partisipasi perempuan dalam politik, mulai dari pemilih (voters), aktivis dan advokat, anggota partai politik, legislator, eksekutif pemerintahan, hingga kepala negara.
“Perempuan jangan takut berpolitik. Ini bukan soal menggantikan peran laki-laki, tetapi melengkapi dan menciptakan keseimbangan demi keadilan sosial,” tegasnya.
Ia menutup dengan refleksi kontekstual tentang tantangan zaman digital dan kecerdasan artifisial (AI). Menurutnya, pengamalan Pancasila harus adaptif terhadap perkembangan teknologi, tanpa meninggalkan adat, akhlak, dan karakter bangsa.
Religius, Humanis, dan Berkeadilan

Sementara itu, Abdullah Aminudin memaparkan karakteristik Demokrasi Pancasila dalam lima bentuk utama. Pertama, Demokrasi Religius yang menjunjung tinggi nilai ketuhanan sebagai moralitas dalam kehidupan bernegara.
Kedua, Demokrasi Kemanusiaan yang mengedepankan hak asasi dan martabat manusia. Ketiga, Demokrasi Nasional yang menempatkan persatuan bangsa di atas kepentingan golongan.
Keempat, Demokrasi Musyawarah yang mengutamakan deliberasi dan kebijaksanaan untuk mufakat, bukan sekadar suara mayoritas. Kelima, Demokrasi Berkeadilan Sosial yang bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
Dalam sesi dialog, Aminudin menyampaikan optimisme terhadap masa depan bangsa. “Kita tetap optimis bahwa kejayaan Indonesia bisa diraih. Bagi yang belum bisa bergerak, tetaplah berdoa agar para pemimpin dan wakil rakyat amanah serta berpihak pada rakyat. Indonesia akan cerah, tapi kita tidak boleh lengah,” ungkapnya.
Ia juga berharap masyarakat Blora terus menjaga kerukunan dan kebersamaan sebagai fondasi kebahagiaan kolektif.
Butuh Etika dan Partisipasi
Kegiatan ini menjadi penegasan bahwa penguatan budaya politik bukan sekadar agenda rutin, melainkan kebutuhan mendesak. Di tengah dinamika digital dan tantangan moral politik, demokrasi hanya akan kokoh jika dibangun di atas partisipasi luas, integritas, serta keseimbangan peran laki-laki dan perempuan.
Di Blora diteguhkan semangat, demokrasi Pancasila tidak berhenti sebagai konsep, tetapi terus dihidupkan melalui dialog, refleksi, dan komitmen bersama. (@bangsar/01)

