
ADA IRONI yang selalu hidup dalam kisah-kisah besar dunia pewayangan. Benda yang paling indah justru sering membawa petaka terdalam. Cupu Manik Astagina adalah salah satunya.
Ia tidak sekadar pusaka dari kahyangan, melainkan lambang dari hasrat manusia untuk mengetahui segalanya hasrat yang, ketika tak terkendali, berubah menjadi sumber kehancuran.
Dalam cerita itu, Cupu Manik Astagina memiliki daya yang nyaris tak tertandingi, karena ibisa memperlihatkan isi jagat raya. Sebuah kemampuan yang, dalam bayangan manusia mana pun, terdengar seperti anugerah. Namun justru di situlah letak bahayanya. Sebab tidak semua yang bisa dilihat layak untuk diketahui, dan tidak semua pengetahuan sanggup ditanggung oleh hati yang belum siap.
Kisah ini tidak meledak di medan perang, tidak pula di ruang kekuasaan. Ia pecah di dalam rumah. Di tengah keluarga Resi Gautama ruang paling privat, paling dekat, dan seharusnya paling kokoh. Tetapi justru di situlah retakan pertama muncul. Kecurigaan merayap pelan, amarah tumbuh tanpa kendali, dan kepercayaan runtuh dalam sekejap.
Di titik ini, Cupu Manik Astagina berhenti menjadi benda. Ia berubah menjadi cermin. Ia memantulkan isi hati manusia: rasa ingin memiliki, dorongan untuk menguasai, dan ketidakmampuan menahan diri. Yang hancur bukan pusakanya, melainkan relasi yang dibangun di atasnya.
Subali dan Sugriwa adalah anak-anak dari konflik itu. Mereka bukan pahlawan sejak awal, melainkan korban dari kegagalan orang-orang dewasa menjaga kejernihan batin. Perebutan atas pusaka itu menyeret mereka ke dalam lingkaran takdir yang keras. Cupu yang diperebutkan akhirnya dibuang, menjelma menjadi alam liar, gunung dan hutan, seolah menegaskan bahwa kesalahan manusia bisa melahirkan dunia baru yang tak lagi bisa dikendalikan.
Kejernihan Hati
Kisah ini tidak memberi akhir yang menenangkan. Tidak ada pemulihan keluarga yang utuh. Tidak ada penebusan yang instan. Yang tersisa hanyalah konsekuensi. Dan dari sanalah lahir kesadaran paling sunyi: bahwa yang paling berbahaya bukanlah pusaka sakti, melainkan hati yang kehilangan kendali.
Di tengah kehidupan hari ini, Cupu Manik Astagina terasa semakin relevan. Kita hidup di zaman ketika “melihat isi dunia” bukan lagi mitos, melainkan kenyataan. Teknologi membuka segala hal. Informasi datang tanpa batas. Semua bisa diketahui, semua bisa diakses. Tetapi pertanyaannya tetap sama seperti dalam kisah itu: apakah kita siap dengan apa yang kita lihat?
Konflik keluarga, perpecahan sosial, bahkan kegaduhan publik hari ini sering kali berakar dari hal yang sama, prasangka, ego, dan keinginan untuk menjadi yang paling benar. Kita memiliki “cupu” dalam genggaman, tetapi kehilangan kebijaksanaan untuk menggunakannya.
Di situlah kekuatan kisah ini: ia tidak menghakimi, tetapi mengingatkan. Bahwa harmoni tidak runtuh karena kekuatan besar dari luar, melainkan karena retakan kecil yang dibiarkan tumbuh di dalam. Bahwa pengetahuan tanpa pengendalian diri hanyalah jalan lain menuju kesesatan. Dan bahwa pusaka paling berharga dalam hidup bukanlah kemampuan melihat dunia, melainkan kemampuan memahami diri sendiri.
Cupu Manik Astagina, pada akhirnya, bukan cerita tentang masa lalu. Ia adalah peringatan yang terus berulang: ketika manusia terlalu ingin mengetahui segalanya, ia justru berisiko kehilangan hal yang paling penting yaitu kejernihan hati. (@bangsar26/01)









Leave a Reply