Galaksi-tv

Menyalakan Kesadaran Publik

Dua Putri, Dua JALAN PRESTASI dari Berbak

Dari Hafalan Al-Qur’an hingga Kaligrafi, Keluarga Sudarwanto Menanam Mimpi dari Desa

NGAWEN, GALAKSI TV — Rumah sederhana keluarga Sudarwanto di Desa Berbak, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, menyimpan cerita tentang pendidikan, ketekunan, dan mimpi yang tumbuh jauh melampaui batas desa. Dua putrinya menempuh jalan berbeda, tetapi bertemu pada satu titik yang sama: prestasi di bidang keagamaan.

Azkaa Lafiza saat menerima penghargaan dalam menulis kaligrafi di PORSADIN Kab. Blora

Sudarwanto, 54 tahun, sehari-hari mengabdi sebagai perangkat Desa Berbak. Bersama isterinya Siti R, ia membesarkan anak-anak dengan perhatian kuat terhadap pendidikan umum sekaligus pendidikan agama. Hasilnya mulai terlihat.

Putri sulungnya, Afridatul Fikriah, menekuni hafalan Al-Qur’an sejak menempuh pendidikan menengah. Ia kemudian memperdalam pendidikan dan hafalan Al-Qur’an di Sulaimaniyah, Jember.

Ketekunan Afridatul dalam menghafal Al-Qur’an membuka kesempatan yang tidak pernah kecil bagi seorang anak yang tumbuh dari wilayah Ngawen, Blora. Prestasinya mengantarkan dirinya memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan ke Turki melalui jalur beasiswa.

Dari Berbak, perjalanan itu menjadi bukti bahwa jarak geografis tidak otomatis membatasi cita-cita. Ketika pendidikan, disiplin dan dukungan keluarga berjalan bersama, seorang anak desa juga dapat memperoleh kesempatan belajar hingga ke luar negeri.

Namun cerita keluarga ini tidak berhenti pada Afridatul.

Adiknya, Azkaa Lafiza, yang kini berusia 12 tahun, memilih jalan prestasi melalui seni kaligrafi Al-Qur’an. Azkaa menekuni seni menulis ayat-ayat suci itu sejak duduk di kelas III sekolah dasar.

Kemampuannya tidak tumbuh secara instan. Ia belajar sedikit demi sedikit, mengasah teknik penulisan huruf Arab, komposisi, ketepatan bentuk hingga unsur estetika. Untuk memperkuat keterampilannya, Azkaa juga mengikuti pembelajaran kaligrafi kepada Jadi di Karangjati dan Abdul Gofar di Gondang.

Proses panjang itu mulai menghasilkan prestasi.

Azkaa menjadi juara pertama kaligrafi putri dalam rangkaian Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN). Prestasinya berlanjut dari tingkat Kecamatan Ngawen hingga berhasil menjadi yang terbaik di tingkat Kabupaten Blora.

Kemenangan tersebut membuat Azkaa memperoleh kepercayaan membawa nama Blora ke PORSADIN tingkat Provinsi Jawa Tengah di Tegal.

Bagi anak seusianya, berdiri membawa nama kabupaten tentu bukan sekadar persoalan menang atau kalah. Di balik sebuah karya kaligrafi terdapat latihan berulang, kesabaran mengendalikan goresan, ketelitian menjaga bentuk huruf dan kemampuan mempertahankan konsentrasi.

Di lingkungan pendidikan agama, Azkaa juga belajar di Pondok Almazuriah, Ngawen. Dari lingkungan keluarga, sekolah, pondok hingga para pembimbing kaligrafi, kemampuannya tumbuh melalui proses yang saling melengkapi.

Kisah Afridatul dan Azkaa menjadi menarik karena keduanya tidak berjalan pada bidang yang sama. Sang kakak memilih mendalami hafalan Al-Qur’an, sementara sang adik mengembangkan seni kaligrafi Al-Qur’an.

Satu menjaga ayat-ayat Al-Qur’an melalui ingatan. Satunya lagi menuangkannya melalui goresan dan seni.

Mimpi Besar

Sudarwanto bersama istri dan kedua putrinya yang berprestasi

Di tengah derasnya penggunaan telepon pintar dan hiburan digital di kalangan anak-anak, perjalanan dua putri keluarga perangkat Desa Berbak tersebut memperlihatkan bahwa prestasi tetap membutuhkan proses yang sangat konvensional: belajar, berlatih, disiplin dan konsisten.

Tidak ada hasil yang datang dalam satu malam.

Afridatul harus melewati proses panjang menghafal ayat demi ayat sebelum kesempatan pendidikan ke Turki terbuka. Azkaa pun harus berulang kali memegang pena, memperbaiki bentuk huruf dan berlatih komposisi sebelum akhirnya menjadi juara dan dipercaya mewakili Kabupaten Blora.

Bagi keluarga Sudarwanto, dua putrinya mungkin menempuh jalan berbeda. Namun keduanya membawa pesan yang sama: anak dari desa tidak harus memiliki mimpi yang kecil.

Dari sebuah keluarga di Berbak, Ngawen, satu putri membawa hafalan Al-Qur’an menuju Turki. Putri lainnya membawa goresan kaligrafi menuju panggung Jawa Tengah.

Dan perjalanan keduanya belum selesai.

NICOLAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *