Galaksi-tv

Menyalakan Kesadaran Publik

ENY WULANDARI ‘Panaskan’ Panggung Hiburan di MOJO GERSAPI

Saat Wayang, Tayub, dan Seniman Sepuh Menghidupkan Lagi Denyut Budaya Desa

TUNJUNGAN,BLORA : Sabtu malam  (2/5/2026) di Dukuh Mojo,  Gersapi,  Sukorejo, Kecamatan Tunjungan, Blora terasa berbeda. Kades Sukorejo Sutrisno dan warga tidak hanya datang untuk menonton pagelaran wayang kulit, tetapi juga untuk merayakan rasa syukur, mengenang para seniman lama, dan merawat ikatan budaya yang selama ini menjadi napas kehidupan desa.

Eni Wulandari tampil energik dan menghanyutkan saat membawakan gending-gending tayub Srihuning, Kijing Miring-88.

Di panggung Sedekah Bumi itu, Dalang Nuryanto, sinden Eni Wulandari, dari Pangkat, Patalan,Blora serta para seniman sepuh Mojo menghadirkan malam yang bukan sekadar meriah, tetapi juga menyentuh kenangan kolektif warga tentang pentingnya menjaga tradisi.

Lakon yang dibeber malam itu “Lahirnya Wisanggeni” menjadi inti pertunjukan. Cerita ini mengandung lapisan makna tentang kelahiran tokoh kuat, keberanian, keteguhan sikap, dan garis nasib yang ditempa oleh konflik besar. Dalam bingkai Sedekah Bumi, lakon tersebut terasa relevan: masyarakat desa tidak hanya merayakan hasil bumi, tetapi juga merawat daya hidup, ketahanan sosial, dan ikatan kebudayaan.

Naik Panggung

Suasana menjadi semakin gayeng ketika adegan Limbuk muncul. Bagian ini menjadi titik cair pertunjukan. Penonton yang sejak awal menyimak alur cerita mulai larut dalam humor, nyanyian, dan interaksi panggung. Dalam adegan tersebut, sejumlah seniman sepuh Mojo diundang naik ke panggung untuk ikut njoget tayub.

Nama-nama lama seperti Porno Gutil, Topo, dan Suminten kembali disebut dan disambut hangat warga. Mereka dikenal sebagai seniman ketoprak yang pernah berjaya pada era 1980–1990-an. Kehadiran mereka bukan sekadar hiburan tambahan, tetapi semacam penghormatan kepada generasi pelaku seni rakyat yang pernah menghidupkan panggung-panggung desa pada masanya.

Sedekah Bumi Mojo memperlihatkan nilai yang lebih dalam. Tradisi tidak hanya hidup karena digelar, tetapi karena melibatkan kembali orang-orang yang pernah menjaganya. Seniman tua diberi ruang, dikenang, dan dirayakan di hadapan warga.

Bintang panggung malam itu, Eni Wulandari, sinden pendamping dalang kondang Sigit Arianto dan pasangan duet Jolang seniman panggung tradisonal, tampil kuat sebagai sinden yang mampu menjaga energi pertunjukan. Suaranya merdu, mengalun dalam sejumlah gending dan tembang tayub, seperti Srihuning Mustiko Tuban, Kijing Miring 88, hingga fragmen Roro Jonggrang, membuat penonton tak jengah dari tempat duduknya. Penampilan Eny membuat panggung terasa hidup, komunikatif, dan dekat dengan penonton.

Bagi warga, pertunjukan itu menjadi tontonan yang lengkap: ada cerita, musik, humor, nostalgia, dan interaksi langsung dengan para seniman. Wayang kulit tidak tampil sebagai seni yang jauh dari masyarakat, tetapi hadir sebagai hiburan rakyat yang tetap punya tempat di tengah perubahan zaman.

Kegembiraan warga semakin bertambah karena dalam acara tersebut juga dibagikan puluhan doorprize. Hadiah itu berasal dari Mas Budiono, warga Blora yang sukses di Jakarta dan pada malam itu ikut berbagi dengan masyarakat. Kehadirannya memberi warna sosial dalam acara Sedekah Bumi: sukses di perantauan tidak membuat seseorang putus dari akar kampung halaman.

Belum Hilang

Para seniman ketoprak Legendari Mojo, Parno Nggutil, Topo dan Suminten menghangatkan panggung hiburan sedekah Bumi Mojo Gersapi

Warga yang hadir pun merasa mendapat dua hal sekaligus: hiburan budaya dan kebahagiaan sosial. Ada yang datang untuk menonton wayang, ada yang ingin menikmati tayub, ada yang sekadar berkumpul dengan tetangga, dan ada pula yang berharap mendapatkan hadiah.Semua menyatu dalam suasana desa yang hangat.

Sedekah Bumi Dukuh Mojo pada akhirnya bukan hanya agenda tahunan. Ia menjadi mekanisme sosial untuk merawat kebersamaan. Melalui wayang kulit, tayub, sinden, dalang, seniman sepuh, dan gotong royong warga, tradisi ini menunjukkan bahwa desa masih memiliki cara sendiri untuk menjaga ingatan kolektif.

Di era derasnya hiburan digital, panggung Sedekah Bumi Mojo membuktikan satu hal: seni tradisi belum kehilangan daya tariknya. Selama masih ada warga yang datang, seniman yang tampil, dan tokoh masyarakat yang peduli, kebudayaan desa akan tetap hidup—bukan sebagai kenangan lama, tetapi sebagai napas sosial yang terus bergerak dari generasi ke generasi. (mas ton/01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *