Galaksi-tv

Menyalakan Kesadaran Publik

PENJUAL CERIPING  & Telur Asin yang 7 Kali ke TANAH SUCI

Jejak Inspiratif Bu Ndon Menjemput Berkah Baitullah


NGAWEN, GALAKSI-TV.COM. Dari jualan ceriping dan telur asin, Suparmi atau yang akrab disapa Bu Ndon, beralamat di Sambongrejo, Kec. Ngawen Blora, menapaki jalan hidup yang tak biasa.

Perempuan kelahiran 30 Juni 1971 ini membuktikan bahwa ketekunan, keikhlasan, dan keyakinan mampu mengantarkan langkah kecil menjadi perjalanan besar hingga berkali-kali ke Tanah Suci.

Bu Ndon bukanlah sosok yang lahir dari kemewahan. Lulusan SMA ini menjalani hidup sederhana bersama suaminya, Syarif, membesarkan dua anak hingga kini dikaruniai empat cucu. Sebelum dikenal sebagai pesyiar Baitullah, ia adalah pedagang kecil, menjual ceriping dan telur asin demi menopang kebutuhan keluarga.

Bu Dhon bersama leader besar Arminareka Perdana H. Dian Maulana (Mr. Molan) usai menerima penghargaan di acara Ghatering Pesyiar Baitullah di Hotel Tentrem Jakarka.

Perubahan besar terjadi ketika ia mendapat bantuan oven dari pemerintah. Dari situ, Bu Ndon mulai merintis usaha roti. Perlahan tapi pasti, usahanya berkembang. Roti buatannya dikenal, pesanan meningkat, dan dapurnya menjadi pusat harapan baru bagi keluarga.

Di tengah kesibukan usaha, Bu Ndon tetap aktif di lingkungan sosial. Ia mengajar di TK dan Madin, sekaligus menjadi pengurus Muslimat. Aktivitasnya padat, namun satu mimpi terus ia jaga: bisa berangkat ke Baitullah.

Berangkat Umroh

Dari hasil jualan roti, ia mengumpulkan Rp3,5 juta sebagai langkah awal mendaftar umroh. Kesempatan itu datang pada 2017, saat ia bergabung dengan Arminareka Perdana. Tahun tersebut menjadi titik balikuntuk pertama kalinya ia menjejakkan kaki di Mekah.

Bu Dhon bersama calon jemaah umroh dari Blora usai mengurus paspos di Kancab Imigrasi Blora

Sejak saat itu, perjalanan spiritualnya terus berlanjut. Bersama Arminareka, Bu Ndon telah menunaikan umroh sebanyak tujuh kali. Hampir setiap tahun, ia berangkat satu hingga dua kali, sekaligus mendampingi jemaah sebagai pesyiar Baitullah.

Berkah dari perjalanan ini tak hanya dirasakan secara spiritual. Ia mampu mendaftarkan haji untuk suaminya, memberangkatkan ibunya umroh, memperbaiki rumah, hingga membeli sepeda motor. Namun di balik itu semua, ada proses panjang yang tidak selalu mudah.

Bu Ndon kerap mendampingi jemaah lanjut usia yang tidak bisa membaca, menulis, bahkan tidak memiliki ponsel. Ia harus memberikan pelayanan ekstra, membimbing dengan sabar dari hal-hal paling mendasar. Tantangan lain juga datang, mulai dari jemaah yang sulit berkomitmen hingga pengalaman unik menerima uang muka Umroh calon jemaah berupa meja, kursi, dan lemari.

Namun semua itu dijalaninya dengan ringan. “Saya jalani dengan gembira dan ikhlas. Semua saya pasrahkan pada Allah SWT,” ujarnya.

Tahun 2026 menjadi momen yang sangat bermakna. Bu Ndon kembali berhasil memberangkatkan sekitar 40 calon jemaah umroh. Atas dedikasinya, ia mendapatkan penghargaan sebagai Tour Leader berprestasi dari Arminareka, lengkap dengan hadiah perjalanan wisata ke Banyuwangi.

Bu Dhon saat disambangi wartawan Galaksi TV di rumahnya Ds Sambongrejo Ngawen Blora

Penghargaan tersebut diberikan dalam acara Gathering Pesyiar Baitullah 17 April 2026 lalu yang digelar di Hotel Tentrem Jakarta. Di hadapan para leader dari seluruh Indonesia, kisah Bu Ndon menjadi simbol bahwa perjuangan sederhana pun bisa berbuah luar biasa.

Perjalanan Bu Ndon adalah cermin bahwa mimpi tidak mengenal latar belakang. Dari dapur kecil hingga berkali-kali ke Tanah Suci, ia membuktikan satu hal: ketika usaha dipadukan dengan keikhlasan, jalan akan selalu terbuka. (@bangsar26/01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *