BUKAN Kejar Angka Tapi KARAKTER


Jalan Tegas SMK Pelita Japah, Blora Menyiapkan SDM Vokasi

JAPAH, GALAKSI-TV.COM : Di saat pendidikan kerap direduksi menjadi urusan angka dan kelulusan, SMK Pelita Japah, Blora memilih berdiri pada prinsip yang lebih mendasar: pendidikan adalah benteng moral bangsa.

Penurunan jumlah siswa, tantangan kompetensi, hingga merosotnya mental kerja tidak disangkal, tetapi dijadikan titik tolak untuk berbenah secara jujur.

Sucipto STKepala SMK Pelita Japah menegaskan di sekolah yang ia pimpin, disiplin, kejujuran, dan etos bekerja ditempatkan sejajar dengan teori dan praktik, karena dunia kerja tidak hanya menuntut keterampilan, tetapi karakter.

“Pendidikan yang benar bukan sekadar meluluskan, melainkan membentuk manusia yang siap bekerja, dipercaya industri, dan bertanggung jawab sebagai warga bangsa.,” tandasnya.

Di tengah penurunan jumlah peserta didik dan perubahan cepat dunia industri, Sucipto menekankan : SMK Pelita Japah memilih jalan yang tidak populer: berhenti mengejar angka semata dan kembali ke inti pendidikan vokasi yaitu membentuk mental kerja, kejujuran, dan disiplin

Tidak Ditutupi

Sucipto memotret kondisi sekolah yang dipimpin secara apa adanya. Jumlah siswa menurun, kompetensi tertentu, terutama sektor pariwisata, perlu penguatan. Ditambahkan adanya program PPPK, pihak sekolah swasta merasa dirugikan. Karena yang mengajar di sekolah swasta setelah bagus justeru yang menikmati kemampuannya sekolah negeri.

Dari sisi sarana dan prasarana yang dimiliki SMP Pelita Japah, dikatakan Sucipto sudah layak untuk pembelajaran praktik. “Yang paling terasa dalam tiga tahun terakhir adalah penurunan mental kerja. Banyak sekolah mengejar nilai, tetapi sikap, cara bicara, sopan santun, dan kemampuan mempertahankan pekerjaan tertinggal,” terangnya. 

Menurutnya, indikator capaian paling objektif hari ini bukan sekadar kelulusan, melainkan disiplin, kejujuran, dan kesiapan mental bekerja tiga hal yang terus dikuatkan sejak sekolah berdiri.

Tiga Pilihan

Siswa-siswa SMK Pelita juga belajar budaya dan kesenian daerah, seperti barongan

Diungkapkan oleh Sucipto lebih lanjut, menuju tahun 2026, SMK Pelita Japah memasang target tegas. Secara akademik, penguatan teori dan praktik dipercepat. Di luar akademik, kewirausahaan dikembangkan.

“Prinsipnya jelas: setiap lulusan wajib bekerja, berwirausaha, atau melanjutkan studi.” jelas Sucipto.

Disebutkan, identitas sekolah dipertegas melalui kompetensi Tata Busana sebagai fokus unggulan. Untuk menopang target itu, pengembangan SDM guru dan tenaga kependidikan masih membutuhkan pendidikan lanjutan, diklat, dan workshop yang berkelanjutan.

Sebagai praktisi, Sucipto menilai tantangan utama SMK di Jawa Tengah bukan pada minimnya industri, melainkan kesiapan sekolah. “Industri di Jawa Tengah sudah relatif siap. Justru banyak sekolah belum mampu menangkap kebutuhan dunia usaha,” ujarnya.

Ia menekankan pekerjaan rumah pemerintah agar lebih realistis: mengurangi beban administrasi pendidik, lebih sering hadir ke sekolah, dan menegakkan ketertiban waktu. “Kerja itu soal waktu. Kalau industri disiplin waktu, sekolah harus memulai dari kepala sekolah sampai siswa.” Jelasnya.

Masih Jadi Pilihan

Siswa SMK Pelita sedang praktek memperbaiki mesin mobil

Di tengah otomasi dan robotik, Sucipto melihat peluang tetap terbuka. Jawa Tengah menjadi tujuan relokasi industri manufaktur dari DKI karena faktor biaya dan lingkungan kerja. “Kalau mental kerja baik dan profesional, manusia tetap menjadi pilihan industri,” katanya.

Lulusan SMK Pelita Japah mayoritas terserap industri, bahkan hingga tiga kali siklus penyerapan, sementara sebagian kecil berwirausaha atau melanjutkan pendidikan. Kompetensi penentu tetap sama: mental, kejujuran, dan kedisiplinan.

Menurut Sucipto, kerja sama dengan dunia usaha dan industri terjalin luas, terutama industri garmen dan berlanjut ke vokasi mekanik alat berat. Polanya menyeluruh: praktik kerja industri, rekrutmen langsung, penyelarasan kurikulum, hingga pelatihan guru.

Dampaknya nyata, siswa bisa langsung terserap kerja setelah lulus. “Prospek industri garmen masih kuat. Sekolah perlu menjaga relevansi dengan komunikasi intensif dan penyelarasan kurikulum berbasis kebutuhan industri, ‘’ ungkap Sucipto.

Dikelola Normatif

Bagi Sucipto, keberlanjutan capaian hanya mungkin jika sekolah dikelola secara normatif, tanpa merekayasa data dan kemampuan siswa. Strategi kepemimpinan ditempuh melalui efisiensi dan skala prioritas, keterampilan dan kemampuan siswa ditempatkan sebagai fokus utama.

 “Pendidikan adalah benteng moral bangsa. Maka pendidikan harus dilakukan dengan benar.” tegasnya.

SMK Pelita Japah telah memilih jalur sulit namun jujur: membenahi mental kerja sebelum mengejar prestasi simbolik. Dalam tantangan vokasi yang kian kompetitif, sekolah ini menunjukkan bahwa relevansi tidak lahir dari angka, tetapi dari karakter lulusan yang siap bekerja, dipercaya industri, dan bertahan dalam dunia nyata. (@bangsar 22.26)

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *