PATI. GALAKSI-TV.COM : Langkah agresif Kabupaten Pati dalam memerangi Tuberkulosis (TB) kini memasuki fase paling krusial: menjangkau hingga ruang-ruang privat keluarga. Didukung pemerintah pusat dan legislatif, program TOSS (Temukan, Obati, Sampai Sembuh) tidak lagi sekadar slogan, melainkan gerakan sistematis yang menyasar akar penularan di tingkat rumah tangga.
Kabupaten Pati menjelma menjadi laboratorium kebijakan kesehatan nasional dalam upaya eliminasi TB. Kunjungan kerja Wakil Menteri Kesehatan, Dr. Benyamin Paulus Oktavianus, Sp.P (K) bersama Anggota DPR RI Komisi IX, Dr. Edi Wuryanto, S.Kep. M.Kep ke Kecamatan Kutoharjo, Pati menegaskan satu hal: perang melawan TB tidak bisa setengah hati.

Di lapangan, pendekatan yang digunakan tidak lagi konvensional. Melalui program TOSS, tim kesehatan melakukan tracing masif terhadap 2.568 penderita TB beserta kontak eratnya. Teknologi pun diturunkan langsung ke masyarakat, mulai dari rontgen portable hingga tes molekuler cepat untuk memastikan diagnosis yang presisi dan penanganan yang tepat.
Wakil Menteri Kesehatan menegaskan bahwa inti dari program ini bukan sekadar menemukan kasus, melainkan memastikan kesembuhan total. “Program ini tidak sekadar pemeriksaan, tapi memastikan pasien mendapatkan perawatan tuntas. Penderita TB harus sembuh total, bukan hanya diberi obat tanpa pengawasan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti dimensi sosial yang kerap luput dalam penanganan TB. Menurutnya, keberhasilan terapi tidak hanya ditentukan oleh obat, tetapi juga lingkungan tempat tinggal pasien. “Dukungan anggaran hingga perbaikan rumah bagi pasien TB menjadi bagian penting agar proses penyembuhan berjalan optimal,” imbuhnya.
Senada dengan Wamenkes, Dr. Edi Wuryanto memaparkan secara rinci capaian kegiatan tersebut: “Tracing penderita TBC di Pati mencapai 2.658 orang. Jika setiap pasien memiliki rata-rata lima kontak erat, maka total yang kami telusuri mencapai sekitar 13.290 orang. Ini adalah upaya besar untuk memutus rantai penularan dari hulu,” ungkapnya.
Pendekatan yang digunakan pun berbeda dari layanan kesehatan konvensional. Pemeriksaan tidak lagi terpusat di fasilitas kesehatan formal, melainkan mendekat ke masyarakat.
“Tracing meliputi pemeriksaan menggunakan mobil rontgen dan TCM atau tes cepat molekuler. Pelaksanaannya tidak di puskesmas atau rumah sakit, tetapi langsung di balai desa atau kantor kecamatan yang dekat dengan penderita,” jelasnya.
Dalam implementasinya, setiap titik layanan ditargetkan mampu memeriksa hingga 100 orang per hari.
“Satu titik ditargetkan pemeriksaan rontgen 100 orang, sehingga di Pati dilaksanakan sekitar 130 titik kegiatan yang tersebar di seluruh wilayah,” tambahnya.
Lebih jauh, Edy menegaskan bahwa program ini tidak berhenti pada deteksi. Penanganan dilakukan secara menyeluruh sesuai hasil diagnosis. “Jika penderita dinyatakan positif dari hasil rontgen dan TCM, maka langsung dilakukan pengobatan sesuai program hingga sembuh. Sedangkan kontak erat yang hasilnya negatif tetap diberikan terapi pencegahan TBC, di mana mereka minum obat seminggu sekali,” tegasnya.
Aspek lingkungan juga menjadi perhatian serius dalam strategi ini. Kondisi hunian yang tidak sehat dinilai berkontribusi terhadap lambatnya proses penyembuhan. “Penderita TBC yang rumahnya tidak layak dari sisi pencahayaan, ventilasi, lantai lembap dan masuk desil 1 sampai 4, akan diberikan bantuan bedah rumah,” ujarnya.
Seluruh rangkaian kegiatan ini dilakukan secara serentak untuk menciptakan dampak yang signifikan dalam waktu relatif singkat. “Kegiatan ini dilakukan bersamaan agar ke depan jumlah penderita TBC di Pati bisa turun drastis, bahkan menuju zero kasus,” tandas politikus PDIP optimistis.
Jadi Pondasi Kuat

Di tingkat daerah, Bupati Pati, Risma Ardhi Candra, melihat momentum ini sebagai akselerasi besar dalam penanggulangan TB. Kolaborasi lintas sektor, menurutnya, menjadi kunci yang selama ini dicari.
“Dukungan dari pemerintah pusat dan DPR RI sangat membantu kami dalam mempercepat identifikasi dan pengobatan pasien TB, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kepatuhan pengobatan,” jelasnya.
Pendekatan komprehensif yang diusung deteksi dini, pengobatan hingga tuntas, serta dukungan sosial menjadi fondasi kuat bagi Pati untuk melangkah lebih jauh. Bukan hanya menurunkan angka kasus, tetapi juga membangun model penanganan yang dapat direplikasi secara nasional.
Jika konsistensi ini terjaga, bukan tidak mungkin Kabupaten Pati akan menjadi episentrum keberhasilan Indonesia dalam mengeliminasi TB, penyakit lama yang hingga kini masih menjadi tantangan kesehatan global. (@bangsar/01)















Leave a Reply