Galaksi-tv

Menyalakan Kesadaran Publik

BERKAT Didikan Keras, LULUSAN TANGGUH untuk Industri Nasional

JAPAH, GALAKSI-TV.COM : Bagi industri, keterampilan bisa dilatih. Namun disiplin dan karakter tidak mudah dibentuk. Itulah yang membuat SMK Pelita Japah Blora menjadi rujukan.

Pendidikan berbasis karakter yang diterapkan sekolah ini menjadikan siswanya siap masuk dunia kerja tanpa perlu adaptasi panjang.

Berada di pelosok Kecamatan Japah, jauh dari pusat Kota Blora, SMK Pelita Japah membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh letak geografis. Dengan pendekatan didikan yang keras, disiplin ketat, dan penanaman karakter yang konsisten, sekolah ini berhasil menyiapkan sumber daya manusia tangguh. Buahnya nyata: industri besar datang langsung ke sekolah, bukan sekadar menyeleksi, tetapi menjemput masa depan para lulusan.

Kepala SMK Pelita Japah, Sucipto, ST. menegaskan bahwa SMK Pelita Japah sejak awal tidak dibangun untuk menjadi sekolah biasa. Di masa sebelum berdiri, Kecamatan Japah belum memiliki sekolah setingkat SMA/SMK. Kondisi itu mendorong keluarga Djojo Sasmito menghibahkan tanah untuk pendirian sekolah pada 2010.

Sucipto Kepala SMK Pelita Japah

Tujuannya sederhana namun strategis: memfasilitasi anak-anak lulusan SMP, MTs, maupun paket agar dapat melanjutkan pendidikan tanpa harus pergi jauh ke pusat kota. Kehadiran SMK Pelita Japah menjadi jawaban atas kebutuhan dasar masyarakat sekitar yang sebelumnya tidak memiliki akses pendidikan menengah.

“Fokus pendidikan kami adalah memutus kebodohan dan kemiskinan. Dua hal ini adalah tantangan utama bagi kemajuan bangsa,” papar Sucipto.

Didikan Keras

SMK Pelita Japah menerima siswa dengan latar belakang yang beragam dan kualitas awal yang tidak selalu terukur. Tantangan terbesar justru terletak pada pembentukan mental. Karena itu, sekolah menetapkan tiga prinsip utama yang wajib dipatuhi seluruh siswa: disiplin, jujur, dan bermartabat.

Bagi pihak sekolah, pendidikan bukan sekadar mengejar nilai akademik. Yang lebih penting adalah membangun perilaku dasar, sopan santun, kejujuran, dan budi pekerti luhur.

“Kami meyakini pendidikan adalah benteng moral bangsa. Anak-anak tidak cukup hanya pintar, tapi harus berkarakter,” ujar Sucipto.

Menurut Sucipto, sejak berdiri, SMK Pelita Japah mendapat perhatian berkelanjutan dari pemerintah. Bantuan infrastruktur datang secara bertahap dan terukur. Pada 2013 dibangun gedung di sisi timur, disusul gedung sisi barat pada 2017 dan sisi selatan pada 2018. Tahun 2020, sekolah kembali menerima bantuan dengan nilai lebih dari Rp3 miliar.

Puncaknya, pada 2024, SMK Pelita Japah memperoleh bantuan Laboratorium Tata Busana dengan bangunan berskala besar. Selain itu di era kepempinan Presiden Prabowo Subianto, SMK Pelita kembali menerima bantuan berupa rehabilitasi ruang-ruang belajar yang kurang layak untuk dilakukan perbaikan.

“Inilah kebanggaan kami. Pemerintah tidak pernah berhenti memperhatikan sekolah yang saya pimpin,” kata Sucipto.

Link and Match

Para Siswa Jurusan Tata Busana foto bersama HRD dan trainer dari PT Ungaran Sari Garmen yang melakukan rekrumen untuk calon karyawan.

Dalam proses pembelajaran, SMK Pelita Japah menjalankan kurikulum link and match sesuai kebijakan pemerintah. Sekolah secara aktif mendatangi dunia usaha dan industri untuk menyelaraskan kebutuhan riil lapangan kerja dengan proses pendidikan di sekolah.

Hasilnya, kerja sama terbangun dengan berbagai industri besar, mulai dari sektor otomotif hingga garmen. Perusahaan seperti Honda, Astra, Nissan di Semarang, hingga industri garmen menyambut baik pola pendidikan yang diterapkan.

Salah satu penyesuaian penting adalah disiplin waktu. Jika jam kerja industri umumnya berlangsung pukul 08.00–16.00, sekolah melatih siswa dengan ritme lebih ketat: masuk pukul 07.00 dan selesai pukul 14.15.

“Kalau mereka bisa bertahan dengan ritme ini, maka mereka juga akan bertahan di lingkungan pabrik,” jelas Sucipto.

Selain itu, siswa dilatih etika berbicara, penampilan, dan sikap profesional agar terbiasa ketika berhadapan langsung dengan pihak perusahaan.

Datang ke Sekolah

Nisrina Lutfhi HRD PT Ungaran Sari Garmen

Kepercayaan industri tercermin dari kehadiran langsung perusahaan untuk melakukan rekrutmen di sekolah. PT Ungaran Sari Garmen menjadi salah satu mitra yang aktif menjaring lulusan, khususnya dari jurusan Tata Busana.

Selain itu, perusahaan pengolahan hasil laut dari Pati, PT Dua Putra Makmur Sejati, juga melakukan rekrutmen calon karyawan di SMK Pelita Japah.

Nisrina Lutfhi, HRD bersama Fathikatun, trainer PT Ungaran Sari Garmen, menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan sekadar mencari tenaga kerja.

“Kami datang ke SMK Pelita Japah untuk menjemput masa depan calon karyawan, khususnya dari jurusan Tata Busana. Di sini siswa tidak hanya disiapkan teori dan praktik, tetapi juga karakter untuk bekerja di industri garmen,” ujar Nisrina.

Menurutnya, kesiapan mental menjadi alasan utama memilih lulusan SMK Pelita Japah.

“Siswi-siswi di sini sudah dibentuk mentalnya untuk masuk ke dunia industri yang nyata. Itu yang kami butuhkan,” tambah Fathikatun.

Sebagai Pondasi.

Bagi siswa, didikan keras dan disiplin ketat justru menjadi nilai tambah. Intan Dwi Handayani, siswi kelas XII jurusan Tata Busana yang mengikuti rekrutmen PT Ungaran Sari Garmen, mengaku memilih SMK Pelita Japah karena kejujuran dan kedisiplinan yang diterapkan.

“Di SMK Pelita kami dididik untuk selalu jujur, disiplin, dan siap bekerja. Itu yang membuat kami lebih percaya diri saat masuk dunia industri,” tuturnya.

SMK Pelita Japah memberi pelajaran penting bagi pendidikan vokasi: karakter adalah fondasi utama sebelum kompetensi. Dari sebuah sekolah desa, lahir lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap dipercaya.

Ketika disiplin dan integritas dijadikan nafas pendidikan, maka industri tidak perlu menunggu, mereka akan datang sendiri untuk menjemput masa depan. (@bangsar26/01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *