Galaksi-tv

Menyalakan Kesadaran Publik

OPTIMISME Tidak Gratis, TAHAN UJI Efisiensi

Proyeksi Ekonomi Blora 2026

OPTIMISME ekonomi Blora menuju 2026 tidak bisa lagi berdiri sebagai kalimat penghibur. Ia harus dibayar dengan disiplin belanja, ketegasan prioritas, dan keberanian membuka ukuran kinerja yang bisa diperiksa publik

Proyeksi itu mengemuka dalam podcast Kupas-Tuntas Proyeksi Ekonomi Blora 2026 di Podcast Galaksi.TV  bersama H. Abdullah Aminuddin, Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah (Dapil Blora–Grobogan), Minggu sore 28 Desember 2025, dalam rangka tasyakuran Hari Jadi Blora ke-276.

H.Abdullah Aminudin Anggota DPRD Provinsi Jateng

Ia mengungkapkan, masyarakat mesti menyambut 2026 dengan optimisme, sambil menegaskan bahwa efisiensi APBN 2026, khususnya pemotongan Transfer ke Daerah, perlu dibaca sebagai upaya pembenahan tata kelola keuangan dari pusat hingga daerah.

Politisi PKB itu menyebut penurunan TKD sekitar 15,8% atau sekitar Rp 370 miliar dibanding tahun sebelumnya. Dalam hal ini , ia memilih posisi “prasangka baik” terhadap Kementerian Keuangan di bawah Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, seraya menaruh syarat yang jelas: anggaran harus diserap lebih baik, lebih efisien, akuntabel, dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi rakyat.

“TKD turun sekitar 15,8%, harapannya agar anggaran bisa diserap lebih baik, lebih efisien dan akuntabel.” Tandasnya.

Namun optimisme yang yang maksud politisi Gedung Berlian Jawa Tengah ini, bukan optimisme murah. Aminudin menegaskan ukuran utamanya adalah perilaku belanja daerah: tepat waktu, tepat mutu, tepat sasaran, bukan menumpuk di akhir tahun. Ia bahkan menyatakan keyakinan bahwa jika belanja daerah disiplin dan cepat, ruang untuk dukungan anggaran pada perubahan dapat terbuka sesuai kebutuhan daerah.

“Tidak ada lagi penyerapan yang menumpuk di akhir tahun jadi kita harus tetap optimis.” ungkapnya.

Mandeknya’ Ekonomi Lokal

Masih menurut Aminudin, efisiensi fiskal bukan sekadar “mengurangi belanja”. Ia bisa berubah menjadi pengetatan yang menahan perputaran uang di daerah, terutama pada ekosistem jasa dan UMKM yang selama ini menikmati limpahan aktivitas rapat, perjalanan dinas, dan belanja pendukung.

Di dalam materi yang sama, disebutkan penurunan rapat luar daerah dapat menggerus perjalanan dinas dan pendapatan hotel, termasuk katering, dan dampaknya disinyalir menjalar ke UMKM.

Sebagai Ketua Apindo Kabupaten Blora sekaligus pelaku usaha, Aminudin menyatakan pihaknya akan mengkaji dampak efisiensi ini terhadap capaian pertumbuhan dan pendapatan para pengusaha. Ia menaruh dua kemungkinan yang harus diantisipasi: efisiensi bisa menaikkan daya beli bila penyerapan belanja lebih tepat dan cepat, atau sebaliknya membuat ekonomi “mandek” bila belanja melambat dan salah sasaran.

Dua Wajah Fiskal

Masuk ke tahun 2026, Blora dipotret memiliki “dua wajah”. Di satu sisi, APBD 2026 disusun dengan proyeksi pendapatan sekitar Rp 2,225 triliun dan belanja sekitar Rp 2,214 triliun, sehingga tercatat surplus sekitar Rp 11,25 miliar.  Ini memberi sinyal daerah masih mampu menjaga kendali perencanaan.

Tetapi di sisi lain, surplus yang kecil tidak otomatis berarti sehat bila beban belanja wajib, kebutuhan pemeliharaan, dan konsekuensi pembiayaan jangka panjang membesar.  Dalam konteks ini, kata “optimis” harus disandingkan dengan kata yang lebih keras: “tahan uji”.

Salah satu penentu ruang gerak itu adalah cara membiayai infrastruktur. Blora disebut menerima dukungan Inpres Jalan Daerah 2025 sekitar Rp 97 miliar. Pada saat yang sama, Pemkab meneken pinjaman daerah Bank Jateng Rp 215 miliar dengan alokasi terbesar untuk pekerjaan jalan.

Catatan kritisnya tegas: kombinasi bantuan pusat dan utang daerah hanya akan menjadi “jalan mulus sesaat” bila tidak dikunci pada koridor produktif, jalur distribusi hasil pertanian, sentra ternak, akses calon kawasan industri, dan simpul logistik yang benar-benar menurunkan biaya ekonomi.

Diuji Dampaknya

Pada titik ini, narasi investasi menjadi penting sekaligus rawan kosmetik. Disebutkan bahwa realisasi investasi Januari–September 2025 menembus Rp 1,6 triliun.  Angka itu kuat sebagai headline, tetapi publik tidak hidup dari headline, publik hidup dari serapan kerja, upah yang layak, rantai pasok lokal, serta kepastian usaha kecil tidak tersingkir.

Karena itu, investasi perlu dibedah terbuka: porsi investasi baru vs ekspansi, serapan tenaga kerja bersih, lokasi, serta sektor mana yang memberi nilai tambah paling tinggi di Blora. Pemerintah Kab. Blora disebut menegaskan fokus: gas bumi, hilirisasi daging sapi, ketahanan pangan dan industri pakan ternak, serta rencana Kawasan Industri (KI) Blora–Cepu.

Secara konsep, ini arah berbasis struktur. Tetapi konsekuensinya juga berat: sektor-sektor itu menuntut kesiapan struktural, bukan sekadar presentasi. Gas bumi, misalnya, bisa menjadi lompatan, tetapi juga berisiko tinggi pada tata kelola, keselamatan, dampak lingkungan, transparansi kemitraan, dan kepastian proyek.

Publik menunggu peta yang bisa diuji: titik sumber, rencana pemanfaatan, kebutuhan utilitas, infrastruktur pendukung, dan model bisnis yang jelas. Pada hilirisasi sapi, menekankan bahwa hilirisasi tidak lahir dari status “populasi besar”, melainkan ekosistem: rumah potong standar, rantai dingin, kontrol kesehatan hewan, akses pembiayaan, kemitraan harga, dan pasar yang tersambung.

Tanpa itu, hilirisasi mudah menjadi jargon dan peternak tetap menjual sapi hidup dengan margin tipis. Dorongan pabrik pakan pun diperingatkan: industri pakan hanya sehat jika pasokan jagung lokal stabil, pascapanen rapi, dan kontrak melindungi petani dari fluktuasi ekstrem. Tanpa itu, pabrik bisa berdiri tetapi nilai tambah tidak tinggal di Blora.

Sedangkan KI (Kawasan Industri) Blora–Cepu disebut sebagai bagian paling strategis sekaligus paling sulit. Catatan kritisnya: kawasan industri tidak bisa hidup dari niat baik; ia hidup dari kepastian lahan dan status, utilitas (listrik, air, akses jalan, limbah), serta kepastian perizinan. Selama publik belum melihat lokasi final dan status lahan final, KI rentan menjadi wacana tahunan.

Dibuka ke Publik

Di akhir catatan proyeksi ini, menajam pada satu pertanyaan: apakah Blora berani mengubah gaya kerja dari “mengumumkan” menjadi “menguji”, menguji setiap program dengan indikator yang bisa diperiksa publik.

Ukuran minimal yang diajukan tegas dan operasional: daftar investasi yang benar-benar masuk dan berjalan (nama proyek, nilai, lokasi, serapan kerja). Peta KI Blora–Cepu yang final (lokasi, status lahan, utilitas, timeline). Ukuran hilirisasi ternak (kapasitas produksi olahan dan perubahan harga di tingkat peternak). Ukuran industri pakan (skema serapan jagung lokal dan dampaknya ke pendapatan petani). Dan ukuran dampak jalan (penurunan biaya logistik dan kenaikan arus barang).

Di titik inilah optimisme yang disampaikan Abdullah Aminuddin menemukan syaratnya: optimisme hanya layak dipertahankan bila disiplin belanja dan indikator kinerja dipasang terang-terangan. Jika ukuran-ukuran itu dijalankan konsisten, 2026 bisa menjadi tahun pembuktian. Jika tidak, Blora akan bertahan di zona abu-abu, tidak gelap, tetapi belum benar-benar cerah. (@maston26/01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *