
SEMARANG, GALAKSI-TV. COM : Jawa Tengah resmi memasuki fase siaga Lebaran. Dari Lapangan Apel Mapolda Jawa Tengah di Semarang hingga halaman Mapolres Blora, apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Candi 2026 menandai dimulainya konsolidasi besar pengamanan arus mudik dan balik Idul Fitri 1447 Hijriah.
Di tingkat provinsi, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memimpin langsung apel kesiapan pasukan. Sementara di Blora, Bupati Arief Rohman tampil sebagai inspektur upacara, menegaskan bahwa pengamanan Lebaran tidak sekadar agenda seremonial, melainkan operasi kemanusiaan yang menuntut kesiapan lintas sektor.

Operasi Ketupat Candi 2026 di Jawa Tengah memperlihatkan satu pesan yang tegas: pengamanan mudik tahun ini tidak bisa ditangani dengan pola rutin. Skala pergerakan manusia, distribusi logistik, potensi kemacetan, kerawanan kecelakaan, hingga gangguan kamtibmas menuntut koordinasi yang jauh lebih presisi.
Karena itu, apel gelar pasukan di Mapolda Jateng pada Kamis, 12 Maret 2026, bukan hanya simbol kesiapan, tetapi titik awal dari mobilisasi penuh aparat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan pendukung. Apel tersebut dipimpin Gubernur Jawa Tengah Komjen Pol (Purn) Ahmad Luthfi, didampingi Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ribut Hari Wibowo serta Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin Darojat.
Dalam amanat Kapolri yang dibacakan pada apel tingkat Polda Jateng, Operasi Ketupat 2026 ditegaskan sebagai operasi kepolisian terpusat yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia selama 13 hari, mulai 13 Maret sampai 25 Maret 2026. Fokusnya bukan hanya kelancaran lalu lintas, tetapi juga perlindungan menyeluruh terhadap masyarakat selama Ramadan, Idul Fitri, arus mudik, hingga arus balik.
Di dalamnya tercakup antisipasi terhadap ancaman terorisme, sweeping oleh oknum, kelangkaan bahan pokok dan BBM, balap liar, petasan, penyalahgunaan narkoba, kecelakaan transportasi, dan potensi bencana hidrometeorologi.
Skala operasi di Jawa Tengah juga menunjukkan betapa seriusnya tantangan yang dihadapi. Polda Jateng mengerahkan total 28.980 personel, terdiri atas 22.680 personel Polri dan 6.300 personel gabungan dari instansi terkait. Mereka disebar di 219 pos, yang mencakup 1 pos terpusat, 18 pos terpadu, 52 pos pelayanan, dan 148 pos pengamanan.
Distribusi personel dan pos ini menunjukkan bahwa pendekatan pengamanan tahun ini bukan semata reaktif, melainkan berbasis titik kendali, pelayanan cepat, dan intervensi lapangan yang tersebar di simpul-simpul mobilitas.
Di Blora

Pola besar itulah yang kemudian diturunkan ke daerah, termasuk di Blora. Di halaman Mapolres Blora, Gelar Pasukan Operasi Ketupat Candi 2026 dilaksanakan dengan Bupati Blora Arief Rohman sebagai inspektur upacara. Ia didampingi Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto, Dandim 0721/Blora Letkol Kav Yudi Agus Setiyono serta jajaran Forkopimda Blora.
Dalam upacara tersebut, Bupati Arief Rohman juga membacakan amanat Kapolri. Pada level daerah, formasi ini penting dibaca bukan sekadar sebagai kehadiran pejabat, melainkan representasi nyata dari struktur komando pengamanan terpadu: pemerintah daerah, Polri, TNI, dan unsur pendukung berada dalam satu garis kerja yang sama.
Blora memiliki alasan kuat untuk menempatkan Operasi Ketupat Candi 2026 sebagai agenda strategis. Kabupaten ini bukan hanya wilayah lintasan, tetapi juga ruang mobilitas warga dari dan menuju daerah lain di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.
Karena itu, kesiapan daerah tidak cukup berhenti pada apel pasukan. Yang lebih menentukan adalah bagaimana apel itu diterjemahkan menjadi kesiapan pos pengamanan, rekayasa lalu lintas, pengawasan titik rawan, respons kedaruratan, dan koordinasi lapangan yang cepat.
Sinyal itu sebenarnya sudah tampak dalam pernyataan Kapolres Blora pada awal Maret 2026 saat membahas kesiapan menjelang mudik. Dikatakan AKBP Wawan Andi Susanto menyatakan bahwa jajaran kepolisian menyiapkan pos pelayanan dan pos pengamanan Mudik Lebaran 1447 H dalam Operasi Ketupat Candi 2026, dengan tujuan bukan hanya mengamankan arus mudik tetapi juga menjaga kondusivitas wilayah selama Ramadan hingga Lebaran.
Dengan demikian, apel di Blora dapat dibaca sebagai simpul lokal dari strategi besar Jawa Tengah. Jika di tingkat provinsi Polda Jateng menyiapkan layanan Valet Ride bagi pemudik sepeda motor dan chatbot Si Polan untuk akses informasi lalu lintas, layanan kepolisian, dan jalur alternatif.
Di tingkat kabupaten tantangannya adalah memastikan seluruh layanan itu tersambung dengan realitas di lapangan: kondisi jalan, titik rawan penumpukan kendaraan, pasar tumpah, pusat keramaian, tempat ibadah, terminal, hingga area perbatasan. *@bangsar26/01)












Leave a Reply