Kesbangpol Jateng Gandeng DPRD Perkuat Cinta Tanah Air
PEMALANG, GALAKSI -TV.COM : Tantangan bela negara di era digital kian kompleks. Mulai dari lunturnya kepedulian sosial, maraknya hoaks, hingga memudarnya rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Tengah bersama sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Tengah di Pemalang , Jumat (28/2/2026).
FGD tersebut menghadirkan anggota DPRD Jateng dari berbagai fraksi, yakni Hj. Irnawati (PDI Perjuangan), Putro Negoro Rekthosetho (PDI Perjuangan), Much. Muchlis Ariston (PKS), H. Abdul Hamid (PKB), serta Hj. Nur Fatwah (PPP) dari Daerah Pemilihan Jateng 13 meliputi Kabupaten Batang, Pemalang, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Pekalongan.
Dalam diskusi yang dimoderatori Kepala Kesbangpol Pemalang Joko Ngatmo berlangsung dinamis, para narasumber sepakat bahwa bela negara tidak lagi dimaknai sebatas angkat senjata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari.
Hj. Nur Fatwah menegaskan, tantangan bela negara saat ini sangat beragam. “Masih ada yang kurang peduli terhadap lingkungan dan sesama. Padahal bela negara bisa dimulai dari hal sederhana seperti menjaga kebersihan, membantu tetangga, dan ikut menjaga keamanan lingkungan,” ujarnya.
Politisi Perempuan dari Fraksi PPP ini juga menyoroti derasnya arus informasi digital yang kerap memicu perpecahan. “Di era teknologi informasi, hoaks menyebar sangat cepat dan sering langsung dipercaya tanpa dicek kebenarannya. Jika tidak disaring dengan bijak, ini bisa memecah persatuan,” tegasnya.
Menurutnya, perbedaan pendapat adalah hal wajar dalam demokrasi, namun jika tidak disertai sikap saling menghargai, dapat menimbulkan perpecahan. Selain itu, pengaruh budaya luar yang semakin kuat juga berpotensi melunturkan rasa cinta tanah air, terutama di kalangan generasi muda.
Gotong Royong dan Disiplin

Nur Fatwah juga menekankan pentingnya penguatan nilai gotong royong sebagai identitas bangsa. “Ikut kerja bakti, membantu sesama, dan menjaga kebersamaan adalah bentuk nyata bela negara. Kita tidak boleh kehilangan jati diri sebagai bangsa yang menjunjung tinggi solidaritas,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa bela negara harus diinternalisasi melalui peran masing-masing. “Sebagai pelajar, orang tua, pekerja, maupun pemimpin, kita punya tanggung jawab. Menjalankan peran dengan baik adalah kontribusi nyata untuk kemajuan bangsa,” tambah Hj. Nur.
Disisi lain Nur Fatwah menyoroti pentingnya literasi digital dan penguatan karakter berbasis nilai Pancasila. “Generasi muda harus dibekali kemampuan menyaring informasi. Cinta tanah air harus diwujudkan dengan bangga menggunakan produk lokal, menjaga nama baik bangsa, dan menghargai perbedaan,” jelasnya.
Sebagai Sikap
Dibagian lain anggota Komisi A DPRD Jateng itu menegaskan bahwa bela negara adalah sikap dan kemauan setiap warga untuk mencintai dan menjaga Indonesia berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
“Bela negara bukan hanya tugas tentara atau aparat keamanan. Setiap warga punya peran melalui tindakan sederhana seperti hidup rukun, belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, serta menjaga persatuan,” tandasnya.
Ia mengingatkan bahwa rasa cinta tanah air harus terus ditumbuhkan agar Indonesia tetap aman, damai, dan maju.
FGD yang digelar Kesbangpol Jateng ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan legislatif dalam membumikan nilai bela negara di tengah masyarakat. Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, diharapkan semangat persatuan, disiplin, tanggung jawab, serta kepedulian sosial dapat semakin mengakar dalam kehidupan sehari-hari.
Bela negara, pada akhirnya, bukan sekadar slogan. Ia adalah komitmen kolektif untuk menjaga Indonesia, dimulai dari diri sendiri, dari hal-hal sederhana, dan dari lingkungan terdekat. (@bangsar/01)

