Galaksi-tv

Menyalakan Kesadaran Publik

Surplus PRODUKSI Butuh Pasar, Bukan JANJI.”

PATI, GALAKSI TV. COM – Tekanan peternak akhirnya memaksa Pemerintah Kabupaten Pati mengambil langkah. Setelah ratusan peternak unggas turun ke jalan, melempar telur hingga menggelar aksi ekstrem sebagai simbol kerugian, Pemkab Pati menetapkan harga telur Rp26.000 per kilogram untuk diserap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai pekan depan.

Namun, kebijakan itu belum menjawab persoalan utama: daya serap SPPG diperkirakan baru sekitar 2 persen dari produksi telur peternak Pati.

Para peternak ayam di Pati saat demo di depan pendopo Pati bari-baru ini

Keputusan tersebut diambil setelah audiensi antara perwakilan peternak dengan Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra di Pendopo Kabupaten Pati, Selasa (11/8/2026).

Chandra mengatakan pemerintah daerah telah menyepakati skema agar SPPG membeli telur dari peternak lokal dengan harga Rp26.000 per kilogram.

Menurut dia, koordinasi telah dilakukan dengan masing-masing SPPG. Pengambilan telur dari peternak direncanakan dilakukan satu kali setiap pekan dan mulai berjalan pekan depan.

Kebijakan itu menjadi respons pemerintah setelah sehari sebelumnya, Senin (10/8/2026), ratusan peternak unggas menggelar demonstrasi di depan Kantor Bupati Pati akibat harga telur dan ayam yang disebut terus tertekan selama sekitar empat bulan.

Persoalannya, kapasitas produksi telur di Kabupaten Pati jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan yang mampu diserap melalui skema tersebut.

Wakil Ketua Asosiasi Unggas Peternak Seluruh Kabupaten Pati, Ali Gufron, menyebut populasi ayam petelur di daerah itu mencapai sekitar 1 juta ekor dengan tingkat produksi sekitar 85 persen.

Dengan asumsi tersebut, produksi telur mencapai sekitar 850 ribu butir per hari atau sekitar 50 ton.

Sementara penyerapan melalui SPPG, menurut perhitungan asosiasi peternak, baru mampu menyalurkan sekitar 2 persen produksi.

Kondisi tersebut membuat kebijakan harga Rp26.000 per kilogram belum otomatis menjadi jalan keluar bagi tekanan pasar yang dihadapi peternak.

Perluas Penyerapan

Peternak meminta pemerintah memperluas skema penyerapan, termasuk membuka akses lebih besar ke pasar modern dan kanal distribusi lainnya agar surplus produksi tidak terus menekan harga di tingkat produsen.

Aksi sehari sebelumnya menggambarkan kerasnya tekanan ekonomi tersebut. Demonstrasi sempat diwarnai pelemparan telur dan ayam ke arah kompleks kantor bupati. Seorang peserta bahkan melakukan aksi teatrikal mandi telur dan memakan ayam hidup-hidup.

Ketua Asosiasi Unggas Peternak Seluruh Kabupaten Pati Dwi Agus Siswanto mengatakan aksi itu menjadi simbol kondisi peternak yang terus kehilangan pendapatan akibat harga komoditas yang jatuh.

Kini, harga pembelian Rp26.000 per kilogram telah ditetapkan. Tetapi persoalan belum berhenti pada angka harga.

Menurut Dwi, tantangan berikutnya adalah seberapa besar telur peternak benar-benar dapat diserap pasar. “Sebab jika hanya sekitar 2 persen produksi yang tertampung, kebijakan tersebut berpotensi menjadi bantalan sementara, bukan penyelesaian struktural bagi peternak unggas Pati, ” tandas Dwi Agus./(@gus/01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *