Galaksi-tv

Menyalakan Kesadaran Publik

Ekspor Jateng MELONJAK, Hilirisasi Jangan TERTINGGAL

SEMARANG,GALAKSI.TV.COM — Nilai ekspor Jawa Tengah memang melesat hingga 7,2 miliar dolar AS pada semester pertama 2026. Namun kenaikan angka belum cukup menjadi ukuran keberhasilan jika daerah masih berhenti sebagai pemasok bahan baku.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah didorong mempercepat hilirisasi, membangun ekosistem industri, serta memenuhi standar lingkungan internasional agar nilai tambah komoditas tidak justru dinikmati negara tujuan.

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah menilai Jawa Tengah mempunyai banyak komoditas unggulan, tetapi tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana produk daerah mampu naik kelas dan memiliki daya saing lebih tinggi di pasar global.

“Tantangannya tentu adalah bagaimana komoditas unggulan itu memberikan nilai tambah dan nilai jual di pasar global,” kata Sarif.

Menurut Sarif, pola ekspor berbasis bahan baku harus mulai ditinggalkan. Sebab, ketika komoditas dikirim tanpa pengolahan lanjutan, sebagian besar nilai ekonomi justru tercipta di industri negara tujuan.

“Kalau hanya diekspor dalam bentuk bahan baku, maka nilai tambah terbesarnya justru dinikmati oleh industri negara tujuan. Karena itu, perlu terus digerakkan bagaimana masing-masing daerah bisa membangun ekosistem industri yang utuh,” ujarnya.

Ciptakan Nilai Tambah

Sarif mendorong pemerintah provinsi tidak hanya mengejar peningkatan volume dan nilai ekspor, tetapi juga membangun fondasi industrialisasi daerah. Mulai dari pengembangan pusat riset, laboratorium pengujian berstandar internasional, pengelolaan limbah hingga sertifikasi hijau.

Dorongan itu menjadi penting di tengah pertumbuhan ekspor Jawa Tengah. Data Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Jateng sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai 7.207,69 juta dolar AS, meningkat 23,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok masih menjadi tiga negara tujuan utama ekspor Jawa Tengah. Secara kumulatif, ekspor nonmigas terutama ditopang sektor industri pengolahan yang tumbuh 18,29 persen.

Namun tidak semua sektor bergerak positif. Ekspor sektor pertanian, kehutanan dan perikanan tercatat turun 0,78 persen, sedangkan sektor pertambangan dan lainnya merosot 13,19 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan ekspor perlu diikuti transformasi struktur ekonomi agar Jawa Tengah tidak sekadar menjadi daerah produksi, tetapi berkembang sebagai pusat pengolahan dan pencipta nilai tambah.

Sarif menegaskan kompetisi ekspor dunia kini juga semakin ketat. Daya saing tidak lagi hanya ditentukan kualitas dan harga produk, tetapi juga kepatuhan terhadap standar lingkungan.

Persaingan global saat ini bukan hanya soal kualitas produk, tapi juga kepatuhan terhadap standar lingkungan dan pengelolaan limbah,” tegas Ketua DPW PKB Jawa Tengah tersebut.

Karena itu, agenda berikutnya bukan semata mempertahankan pertumbuhan ekspor, tetapi memastikan setiap kenaikan nilai ekspor menciptakan industri, lapangan kerja, teknologi dan nilai tambah lebih besar di Jawa Tengah sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *