Galaksi-tv

Menyalakan Kesadaran Publik

Dari GERABAH Menjadi Destinasi, JATENG Membidik EKONOMI Wisata Baru

Dari segumpal tanah, ekonomi desa bisa bergerak. Dari tangan perajin, sebuah kabupaten bisa menemukan identitas. Dan dari tradisi yang dirawat dengan inovasi, Jawa Tengah dapat membangun wajah baru pariwisata

YOGYAKARTA, GALAKSI TV.COM Segumpal tanah liat ternyata dapat berbicara lebih jauh daripada sekadar menjadi kendi, guci atau hiasan rumah. Di Museumku Gerabah, Kasongan, Bantul, Yogyakarta, tanah liat dipertemukan dengan seni, edukasi dan pariwisata hingga melahirkan nilai ekonomi baru.

Model inilah yang mulai dilirik Komisi B DPRD Jawa Tengah: sentra kerajinan tidak cukup hanya menghasilkan barang, tetapi harus berani naik kelas menjadi destinasi yang menjual pengalaman.

Museumku Gerabah Kasongan, Bantul Yogyakarta.

Museumku Gerabah memberikan gambaran konkret mengenai transformasi tersebut. Gerabah tidak ditempatkan sebagai benda mati di balik etalase. Pengunjung dapat mengenal proses, menyentuh material, melihat kreativitas perajin, mengikuti pelatihan, hingga membawa pulang karya dan pengalaman pribadi.

Di sinilah perbedaan mendasarnya. Yang dijual bukan hanya gerabah. Yang dijual adalah cerita di balik gerabah.

Konsep tersebut menarik perhatian rombongan Komisi B DPRD Jawa Tengah saat melakukan kunjungan ke Museumku Gerabah baru-baru ini. Komisi yang salah satu bidang kerjanya berkaitan dengan perindustrian, perdagangan dan UMKM itu ingin melihat bagaimana produk kerajinan tradisional dapat dikembangkan menjadi ekosistem wisata bernilai tambah.

Sekretaris Komisi B DPRD Jawa Tengah, dr. Hj. Sholeha Kurniawati, melihat langsung bagaimana karya-karya tanah liat ditempatkan dalam ruang pamer dengan pendekatan artistik.

dr.Hj. Sholeha Kurniawati

“Kalau kita lihat di display, karya gerabah sangat estetis. Ini dikemas menjadi pameran untuk wisata edukasi. Yogyakarta sangat kental dengan wisata edukasinya, dengan seni yang luar biasa. Banyak seniman yang bisa berkarya dengan media gerabah,” jelas Politisi PPP Jawa Tengah.

Pernyataan itu menyentuh persoalan mendasar industri kreatif daerah. Produk berkualitas belum tentu otomatis menghasilkan nilai ekonomi tinggi. Nilai tambah muncul ketika produk dikemas, diberi identitas, disertai cerita dan dipertemukan dengan pasar yang tepat.

Gerabah menjadi contoh sederhana. Tanah liat yang semula dihitung berdasarkan bahan baku, ongkos produksi dan margin penjualan dapat memperoleh nilai ekonomi baru ketika proses pembuatannya sendiri dijadikan atraksi.

Jadi Pengalaman

Museumku Gerabah memperlihatkan bagaimana rantai ekonomi sebuah kerajinan dapat diperpanjang. Pengunjung tidak hanya melihat dan membeli. Mereka dapat mengenal sejarah, mempelajari teknik pembuatan, mencoba membentuk tanah liat, berfoto, menikmati kuliner hingga membawa pulang produk kerajinan. Aktivitas tersebut membuat sebuah sentra tidak lagi bergantung pada transaksi penjualan barang semata.

Inilah pergeseran dari product-based economy menuju experience-based tourism. Satu benda dapat menghasilkan beberapa transaksi. Gerabah dijual sebagai produk. Proses pembuatannya dijual sebagai pelatihan. Sejarahnya menjadi materi edukasi. Bengkel perajinnya menjadi atraksi.

Lingkungan kampungnya menjadi destinasi. Kuliner dan UMKM di sekitarnya menjadi ekonomi pendukung. Model seperti itulah yang dinilai berpeluang ditransformasikan ke Jawa Tengah.

David Ishaq Aryadi, SE, MM

Anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah, David Ishaq Aryadi, SE, MM, bahkan secara terbuka mendorong agar pengalaman dari Yogyakarta dibawa menjadi bahan masukan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Dengan berkunjung ke gerabah di Yogyakarta, kita akan memberikan masukan kepada Pemprov Jateng. Bila di Yogya ada museum gerabah, ini bisa ditularkan. Daerah mana yang ada pengrajin gerabah bisa kita buat seperti ini, sehingga kabupaten tersebut bisa menjadi ikon,” kata Politisi dari Partai Gerindra.

Apa yang disampaikan David mengandung perspektif yang lebih luas daripada sekadar membangun museum baru. Yang harus dicari adalah identitas ekonomi setiap daerah. Jika sebuah kabupaten mempunyai gerabah, kerajinan itu bisa dikembangkan.

Jika daerah lain mempunyai batik, ukiran, tenun, bambu atau kerajinan logam, konsep serupa dapat diterapkan dengan karakter masing-masing. Dengan demikian, pembangunan pariwisata tidak harus terus-menerus menciptakan destinasi artifisial. Kekayaan yang sudah hidup di tengah masyarakat justru dapat dinaikkan kelasnya.

Mengubah Nilai Tanah

Ada ilustrasi ekonomi menarik dari Museumku Gerabah. Menurut staf pelatihan museum, pengunjung dapat mengikuti pelatihan membuat gerabah selama sekitar 60 menit. Biayanya sekitar Rp125 ribu tanpa konsumsi dan Rp150 ribu dengan konsumsi.

Sekilas yang digunakan hanya tanah liat. Namun wisatawan sebenarnya tidak sedang membeli tanah. Mereka membeli pengetahuan, pendampingan, kreativitas, waktu, interaksi dan pengalaman personal.

Perubahan nilai inilah yang seharusnya menjadi perhatian dalam pembangunan UMKM. Produk lokal tidak selalu harus dikejar sebanyak-banyaknya untuk memperoleh peningkatan pendapatan. Dalam ekonomi kreatif, proses produksi itu sendiri dapat dikapitalisasi menjadi jasa dan pengalaman wisata.

Efek ekonominya pun dapat menyebar. Jika sebuah sentra kerajinan berkembang sebagai destinasi, wisatawan membutuhkan makanan, transportasi, pemandu, tempat menginap, cenderamata dan berbagai layanan lain. Artinya, satu destinasi dapat menciptakan titik-titik ekonomi baru bagi masyarakat di sekelilingnya.

Konsep wisata berbasis pengalaman juga mendapatkan respons dari pengunjung. Isti, wisatawan asal Pekalongan, misalnya, tertarik mencoba langsung proses pembuatan gerabah.

“Saya tertarik mencoba pelatihan membuat karya dari gerabah, untuk belajar. Jadi hasil dari traveling itu ada manfaatnya,” kata Isti.

Kalimat sederhana itu menggambarkan kecenderungan baru pariwisata. Perjalanan tidak lagi hanya soal datang, melihat, berfoto lalu pulang. Ada wisatawan yang menginginkan sesuatu untuk dipelajari, sesuatu yang dapat dikerjakan sendiri, dan sesuatu yang menjadi cerita ketika mereka kembali ke rumah.

Inilah participatory tourism. Destinasi tidak lagi menempatkan wisatawan sebagai penonton, tetapi sebagai peserta. Dan ketika wisatawan terlibat, durasi interaksi menjadi lebih panjang. Peluang transaksi ikut bertambah.

Sudah Punya Modal

Jawa Tengah sebenarnya tidak harus memulai dari nol. Salah satu potensi yang paling konkret adalah Gerabah Melikan di Kabupaten Klaten. Sentra ini mempunyai tradisi panjang dan identitas teknik produksi yang kuat, yakni teknik putaran miring. Melikan bahkan telah dikembangkan sebagai wisata edukasi, tempat pengunjung dapat melihat produksi, mencoba membuat gerabah dan membeli produk secara langsung.

Pengerajin Gerabah Melikan Klaten

Gerabah Melikan juga memiliki modal reputasi. Dalam materi yang dihimpun, produk ini tercatat meraih peringkat pertama kategori cenderamata pada Anugerah Pesona Indonesia Award 2025.

Dengan kondisi tersebut, persoalannya bukan lagi apakah Jawa Tengah mempunyai potensi. Potensinya, perajin,tradisi, teknik khas, produk, pasar wisata pun tersedia.Yang dibutuhkan adalah orkestrasi agar seluruh komponen tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri.

Tak Berhenti Bangun Gedung

Ada satu risiko yang harus dihindari ketika pemerintah mencoba mereplikasi keberhasilan sebuah destinasi: terlalu cepat menerjemahkan gagasan menjadi proyek fisik. Membangun gedung museum relatif mudah. Menghidupkannya jauh lebih sulit. Model yang diperlukan adalah living museum—ruang yang benar-benar hidup bersama aktivitas perajin.

Perajin tetap bekerja, wisatawan dapat mencoba, kurator menjelaskan sejarah, produk dijual, sekolah datang belajar, UMKM lokal masuk. Kuliner berkembang,promosi digital berjalan. Dan kalender kegiatan dibuat konsisten.

Materi awal bahkan menegaskan bahwa rumah produksi, tungku pembakaran, tangan para perajin dan kehidupan kampung sebenarnya merupakan aset autentik yang tidak harus dipindahkan ke bangunan baru.

Karena itu, jika gagasan Komisi B nantinya diterjemahkan dalam kebijakan, pendekatannya membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Dinas perindustrian memperkuat kapasitas dan kualitas produksi. Dinas koperasi dan UMKM membangun kelembagaan usaha.

Dinas pariwisata mengemas pengalaman dan promosi, perguruan tinggi dapat masuk melalui desain, riset dan kurasi. Pemerintah kabupaten memperbaiki akses serta infrastruktur. Sementara masyarakat dan perajin tetap harus menjadi aktor utama.

Jika semua berjalan sendiri, gerabah tetap menjadi produk. Jika disatukan, gerabah dapat menjadi destinasi.

Menuju “Experience Jateng”

Data dalam materi menunjukkan perjalanan wisatawan nusantara menuju Jawa Tengah mencapai 70,69 juta perjalanan hingga Mei 2026. Angka tersebut menggambarkan besarnya pasar yang dapat dikonversi menjadi belanja wisata dan manfaat ekonomi lokal apabila daerah mempunyai lebih banyak destinasi berbasis pengalaman.

Karena itu, orientasi pembangunan ekonomi kreatif sudah saatnya bergerak lebih jauh. Pertanyaannya tidak lagi hanya: Berapa banyak produk UMKM Jawa Tengah yang terjual? Tetapi: Berapa banyak aktivitas ekonomi yang bisa diciptakan dari cerita, proses dan budaya di balik produk tersebut?

Gerabah memberikan jawabannya,tanah menjadi kendi. Proses menjadi pelatihan. Rumah perajin menjadi ruang edukasi.Kampung menjadi destinasi. Produk menjadi cenderamata. Kuliner menjadi penguat pengalaman. Homestay memperpanjang kunjungan. Konten wisatawan menjadi promosi. Itulah multiplier effect yang harus dikejar.

Museumku Gerabah Kasongan telah memperlihatkan bahwa tradisi tidak harus kehilangan jati dirinya ketika masuk ke pasar pariwisata. Justru autentisitas, keterampilan tangan dan cerita manusia di balik produk dapat menjadi daya jual utama.

Kini tantangannya berpindah ke Jawa Tengah. Kunjungan Komisi B DPRD Jawa Tengah jangan berhenti sebagai perjalanan melihat praktik baik. Ia dapat menjadi pintu masuk pemetaan sentra kerajinan, penyusunan model wisata edukasi dan kebijakan lintas sektor untuk melahirkan ikon-ikon ekonomi kreatif baru.

Sebab Jawa Tengah tidak kekurangan karya. Yang diperlukan adalah keberanian mengubah cara melihatnya. Bukan hanya “Made in Jateng”, tetapi “Experience Jateng”. Dari segumpal tanah, ekonomi desa bisa bergerak. Dari tangan perajin, sebuah kabupaten bisa menemukan identitas. Dan dari tradisi yang dirawat dengan inovasi, Jawa Tengah dapat membangun wajah baru pariwisata yang tidak sekadar ramai dikunjungi, tetapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakatnya. (@bagus/01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *