Galaksi-tv

Menyalakan Kesadaran Publik

DARI BLORA untuk Indonesia TANPA TB

BLORA, GALAKSI-TV.COM: Pemerintah pusat dan DPR RI mengirim sinyal keras dari Blora: perang melawan tuberculosis (TB) tidak bisa lagi setengah hati. Wakil Menteri Kesehatan RI, Benyamin Paulus Octavianus, menyebut tingginya kasus TB sebagai “aib peradaban”, sementara Anggota Komisi IX DPR RI, Edi Wuryanto, memperingatkan Indonesia berisiko menjadi juara dunia jika tidak bergerak cepat dan radikal.

Dr. Benny

Road Show Sosialisasi Penanganan TB di Kecamatan Tunjungan, Blora, berubah menjadi panggung kritik tajam sekaligus deklarasi perang nasional terhadap penyakit yang selama ini kerap luput dari perhatian publik.

Di hadapan kepala daerah, tenaga kesehatan, dan ratusan kader desa, Benyamin Paulus Octavianus yang akrab disapa dr. Benny membuka dengan fakta yang sulit dibantah: Indonesia masih menempati peringkat kedua dunia dalam kasus TB.

“Setiap tahun sekitar 125 ribu orang meninggal karena TB. Padahal ini penyakit yang bisa dicegah dan diobati. Tapi kita masih tertinggal,” tegasnya.

Ia tidak menutupi nada kritiknya. Menurut dr. Benny, tingginya angka TB bukan sekadar persoalan medis, melainkan indikator langsung kualitas bangsa.

“Tidak ada negara yang bisa disebut maju kalau angka TB-nya masih tinggi. Ini bukan sekadar penyakit, ini ukuran peradaban,” ujarnya.

Perbandingan dengan Jepang menjadi kontras yang mencolok. Negara tersebut berhasil menekan TB hingga level sangat rendah, sementara Indonesia masih mencatat sekitar 384 kasus per 100 ribu penduduk bahkan melampaui India jika dihitung secara proporsional.

“Kalau per 100 ribu penduduk, kita lebih tinggi dari India. Ini alarm nasional,” katanya.

Penyakit Senyap

Wamenkes foto bersama peserta sosialisasi penanganan TB di Tunjungan Blora

Dalam penjelasan lebih lanjut, dr. Benny mengurai karakter TB sebagai “penyakit senyap” yang kerap tidak disadari.

“Dari tertular sampai sakit bisa 10 minggu, bahkan bisa 2 tahun, 5 tahun, sampai 10 tahun. Dia bisa tidur di tubuh kita,” jelasnya.

Ia menegaskan, justru mereka yang terlihat sehat bisa menjadi bom waktu.

“Yang paling berbahaya itu yang tidak terlihat sakit. Kumannya ada di dalam tubuh dan bisa aktif kapan saja,” ujarnya.

Dari Rumah ke Rumah

Menghadapi situasi tersebut, pemerintah mengusung strategi agresif berbasis komunitas. Di Blora, sebanyak 1.876 kasus menjadi titik awal intervensi besar.

“Setiap rumah penderita akan kita datangi. Kalau ada 6.000 kontak erat, semua diperiksa. Yang sakit diobati, yang belum sakit kita cegah,” tegasnya.

Pendekatan ini diperkuat dengan terapi pencegahan obat diminum seminggu sekali selama 12 kali—serta mobilisasi 590 kader kesehatan di 295 desa.

“Ini bukan program biasa. Ini gerakan. Kita tidak menunggu, kita jemput,” katanya.

Targetnya jelas: dalam satu tahun, penurunan kasus harus terlihat nyata.

Titik Nol Gerakan

Dr. Edi Wuryanto anggota Komisi IX DPR RI

Nada tegas juga datang dari Edi Wuryanto yang mendampingi kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa DPR tidak akan tinggal diam dalam isu TB.

“Tugas DPR itu hanya tiga: membuat undang-undang, melakukan pengawasan, dan menyediakan anggaran. Itu harus maksimal,” ujarnya.

Ia memastikan, kesepakatan dengan pemerintah pusat sudah dibangun untuk menjadikan pemberantasan TB sebagai prioritas, khususnya di Jawa Tengah.

“Saya sudah bicara langsung, ini harus jadi gerakan bersama. Tidak boleh berhenti di seremoni,” katanya.

Dipilihnya Blora sebagai lokasi pertama road show bukan tanpa alasan. Selain angka kasus yang meningkat—dari 1.485 pada 2024 menjadi 1.876 pada 2025—Blora juga menjadi wilayah strategis perbatasan.

“Kalau Blora berhasil, ini bisa jadi model nasional,” ujar Edi.

Namun ia juga mengingatkan sisi gelap yang kerap luput: TB sangat erat dengan kemiskinan.

“Sebagian besar penderita TB adalah orang miskin. Sudah sakit, ekonominya jatuh. Kalau tidak sembuh, makin terpuruk,” tegasnya.

Ia juga menyoroti ancaman TB resisten obat yang membuat pengobatan semakin panjang dan mahal.

“Kalau sudah kebal obat, berat sekali. Ini yang harus kita cegah dari awal,” katanya.

Menuju Titik Kritis

Dr.Edi Wuryanto bersama Wamenkes Bupati Blora dan Kadinkes Prov Jateng

Peringatan paling keras disampaikan di akhir.

“Dulu China nomor satu, sekarang India sudah turun. Kalau kita tidak bergerak cepat, Indonesia bisa jadi nomor satu dunia,” kata Edi.

Senada dengan itu, dr. Benny menegaskan bahwa eliminasi TB adalah syarat mutlak bagi Indonesia untuk naik kelas.

“Kalau kita bebas TB, itu tanda kita siap jadi negara maju,” ujarnya.

Kehadiran sejumlah pejabat, termasuk Bupati Blora dan jajaran kesehatan daerah, menegaskan bahwa ini bukan agenda biasa. Road show akan berlanjut ke daerah lain seperti Grobogan, namun pesan dari Blora sudah jelas

Indonesia sedang berada di titik krusial antara bergerak cepat mengakhiri TB, atau menerima kenyataan menjadi episentrum baru penyakit yang seharusnya sudah bisa ditaklukkan. (@maston/01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *