BLORA, GALAKSI TV.COM – Bukan sekadar membagikan makanan, 15.540 bungkus sego berkat berbalut daun jati yang memenuhi Alun-Alun Blora, Selasa (18/8/2026), menjadi simbol tentang bagaimana kemerdekaan dirawat dari akar tradisi: bersyukur, bergotong royong, dan duduk bersama tanpa sekat.
Dalam susana peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, Sedekah Bumi Blora menjelma menjadi ruang perjumpaan ribuan warga sekaligus penegasan bahwa kemajuan daerah tidak harus memutus identitas budayanya.
Sebanyak 15.540 bungkus sego berkat dibagikan kepada masyarakat dalam Tasyakuran Sedekah Bumi Blora. Ribuan paket makanan tersebut ditempatkan dalam 1.554 bakul atau waskom, disiapkan dengan keterlibatan sekitar 2.830 peserta dari berbagai unsur masyarakat.

Jumlah itu melonjak dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya yang mencapai 12.180 bungkus. Artinya, terdapat penambahan 3.360 bungkus atau sekitar 27,6 persen.
Bupati Blora H. Arief Rohman menyebut Sedekah Bumi telah konsisten diselenggarakan selama empat tahun pada masa kepemimpinannya. Tradisi tersebut ditempatkan sebagai ruang untuk mensyukuri berbagai anugerah yang diterima masyarakat sekaligus menjaga ikatan sosial.
“Alhamdulillah ini sudah empat tahun dilaksanakan. Ini merupakan tradisi kita di Blora untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan kepada kita,” ujar Arief Rohman.
Menjadi Energi Persatuan
Sedekah bumi selama ini dikenal sebagai tradisi masyarakat agraris untuk menyampaikan rasa syukur atas hasil bumi, keselamatan dan keberlangsungan kehidupan. Namun dalam perayaan di tingkat Kabupaten Blora, maknanya diperluas menjadi ruang kebersamaan masyarakat.
Ribuan warga dengan latar belakang berbeda berkumpul dalam satu kawasan. Aparatur pemerintahan, kelompok masyarakat hingga warga umum terlibat dalam proses menyiapkan dan membagikan sego berkat.
Pada titik inilah Sedekah Bumi tidak lagi sekadar menjadi seremoni budaya. Tradisi tersebut menjadi mekanisme sosial yang mempertemukan warga, menumbuhkan partisipasi dan menghidupkan kembali semangat gotong royong.
“Dalam sedekah bumi ada nilai syukur, gotong royong dan kebersamaan yang ingin terus kita jaga. Apalagi kegiatan ini kita rangkaikan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI, sehingga semangat persatuan dan keguyuban masyarakat juga harus terus kita kuatkan,” kata Arief.
Peringatan kemerdekaan pun memperoleh makna yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Bukan hanya mengenang perjuangan masa lalu, tetapi menerjemahkan kemerdekaan menjadi kemampuan menjaga persatuan dan mengelola kekayaan budaya sebagai modal pembangunan.
Identitas Blora

Ada satu elemen yang membuat sajian Sedekah Bumi Blora memiliki karakter kuat: daun jati.
Sebanyak 15.540 paket makanan tidak menggunakan kemasan modern, melainkan dibungkus dengan daun yang identik dengan lanskap Blora sebagai salah satu daerah penghasil jati.
Di dalamnya tersaji nasi putih dengan lauk ayam kampung goreng, telur balado, sambal goreng kentang serta cager tahu.
Pilihan daun jati membuat sego berkat tidak semata menjadi makanan yang dibagikan setelah doa bersama. Ia sekaligus menghadirkan identitas lokal dalam bentuk yang paling sederhana dan mudah dikenali masyarakat.
Dari pohon yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari bentang alam Blora, daun jati kembali hadir membungkus hasil bumi dan kemudian dibagikan kepada warga.
Tahun ini panitia semula menyiapkan 1.460 waskom dengan total 14.600 bungkus sego berkat. Dalam perkembangannya jumlah tersebut meningkat menjadi 1.554 waskom dan 15.540 bungkus.
Tahun sebelumnya, ketika kegiatan digelar di Jalan Pemuda Blora, jumlah sego berkat tercatat 12.180 bungkus.
Peningkatan jumlah tersebut menunjukkan skala partisipasi yang semakin besar. Namun tantangan selanjutnya bukan sekadar memperbanyak jumlah makanan atau peserta.
Esensi yang ingin dipertahankan justru terletak pada nilai yang menopangnya: masyarakat mau terlibat, berbagi, bergotong royong dan bertemu dalam ruang yang sama.
Arief berharap tradisi tersebut terus dipertahankan di tengah perubahan zaman.
“Kita juga berdoa bersama agar Blora semakin maju,” tandasnya.
Tumbuh dari Akar Budaya
Di usia Republik Indonesia yang memasuki 81 tahun, Sedekah Bumi Blora memberikan gambaran bahwa nasionalisme tidak selalu hadir melalui seremoni besar.
Ia bisa tumbuh dari daun jati, sebungkus nasi, kerja bersama ribuan warga dan doa yang dipanjatkan dari sebuah alun-alun.
Tradisi memang berasal dari masa lalu. Namun ketika nilai syukur, gotong royong dan persatuannya terus hidup, tradisi justru dapat menjadi modal sosial untuk menatap masa depan.
“Dari 15.540 bungkus sego berkat itu, Blora sedang menyampaikan satu pesan sederhana: kemerdekaan akan tetap bernilai ketika kemajuan tidak meninggalkan akar, dan pembangunan tetap menjaga keguyuban masyarakat” (@maston/01)










Leave a Reply