Galaksi-tv

Menyalakan Kesadaran Publik

Dari Sosis Bakar, SEGARA Menembus Indonesia

“Jangan malu memulai dari bawah. Usaha yang besar selalu berawal dari keberanian mengambil langkah pertama,”Supriyanto

BLORA, Galaksi TV.COM : Gerobak sederhana di pinggir jalan menjadi titik awal perjalanan besar Supriyanto, S.E. Dengan modal sekitar Rp2 juta, pemuda asal Desa Geneng, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, itu memberanikan diri menjual sosis bakar. Tidak ada toko besar, tenaga kerja, maupun jaringan bisnis. Ia mengerjakan hampir seluruh proses usahanya sendiri.

Supriyanto saat Podcast dengan Abdullah Aminudin di program Galaksi TV Blora

Kini, Supriyanto dikenal sebagai pemilik sekaligus pendiri SEGARA, merek minuman asal Blora yang dikembangkan melalui sistem kemitraan. Jaringan usahanya diklaim telah berkembang menjadi lebih dari seribu lapak di berbagai wilayah Indonesia. Ia juga mengembangkan sejumlah lini bisnis lain dengan nilai usaha yang menurut perhitungannya telah mencapai puluhan miliar rupiah.

Perjalanan tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Sebelum membangun SEGARA, Supriyanto pernah bekerja sebagai tenaga penjualan dan berkecimpung di sektor pertambangan. Pengalaman sebagai tenaga penjualan justru menjadi sekolah bisnis yang membentuk mental, kemampuan berkomunikasi, membaca karakter konsumen, dan menghadapi penolakan.

“Menjadi sales sering dipandang sebelah mata. Padahal, dari pekerjaan itulah saya belajar bisnis secara nyata dan memahami tantangan di lapangan,” tutur Supriyanto dalam program Success Story Galaksi TV baru-baru ini.

Modal Selalu Diputar

Jalan menuju keberhasilan tidak selalu berjalan lurus. Supriyanto mengaku beberapa kali mencoba usaha dan mengalami kegagalan. Setiap memperoleh penghasilan, uang tersebut tidak langsung digunakan untuk membeli kendaraan, rumah, atau barang konsumtif. Sebagian besar kembali diputar sebagai modal usaha.

Bahkan, setelah beberapa kali gagal, ia sempat berencana bekerja ke Jepang. Persiapan telah dilakukan, tetapi keberangkatannya tidak terwujud. Kondisi tersebut membuatnya tidak memiliki banyak pilihan selain kembali membangun usaha dari awal.

“Saya sudah tidak punya pilihan. Akhirnya saya berpikir, jangan malu memulai sesuatu dari apa pun yang bisa saya kerjakan,” ujarnya.

Dengan modal sekitar Rp2 juta, ia membeli peralatan dan bahan untuk berjualan sosis bakar. Meski usaha tersebut berskala kecil, Supriyanto berusaha menghadirkan konsep yang berbeda. Produk disimpan dalam kondisi beku, konsumen dapat memilih langsung, kebersihan dijaga, dan penampilan gerobak maupun penjual dibuat lebih profesional.

Supriyanto di depan Cafe SEGARA ikon bisnisnya di Blora

Menurutnya, usaha kecil tidak boleh dikelola secara sembarangan. Kepercayaan konsumen dibangun sejak dari tampilan, kebersihan, kualitas produk, hingga pelayanan.

“Saya ingin menunjukkan bahwa meskipun usahanya kecil, pengelolaannya harus tetap serius dan profesional,” katanya.

Kebutuhan Duplikasi

Usaha sosis bakar memberikan pemasukan, tetapi memiliki keterbatasan untuk dikembangkan secara luas. Supriyanto kemudian mencari produk yang lebih mudah distandardisasi, dipasarkan, dan diduplikasi melalui sistem kemitraan.

Dari proses tersebut lahirlah SEGARA, singkatan dari “segenggam rasa”. Usaha minuman tersebut mulai dikembangkan pada Februari 2020 melalui satu gerai di Jalan Pemuda, Blora.

Momentum tersebut bertepatan dengan merebaknya pandemi Covid-19. Ketika banyak usaha kecil dan menengah mengalami penurunan pendapatan bahkan berhenti beroperasi, SEGARA justru menemukan peluang melalui konsep minuman dengan harga terjangkau dan sistem kemitraan yang relatif sederhana.

Setelah merek SEGARA didaftarkan, Supriyanto mulai membuka jaringan kemitraan di sejumlah daerah. Pada 2021, SEGARA telah memiliki sekitar 125 mitra yang tersebar di sejumlah kota, termasuk wilayah di luar Pulau Jawa seperti Kalimantan.

Konsep yang digunakan saat itu adalah satu mitra untuk satu kecamatan. Kebijakan tersebut diterapkan untuk menghindari persaingan langsung antarmitra dalam wilayah yang sama.

“Kami tidak ingin mitra saling mematikan. Karena itu, satu kecamatan diberikan kepada satu mitra agar pasarnya tetap terjaga,” jelasnya.

Paket kemitraan ketika itu ditawarkan dalam dua varian, yakni sekitar Rp18 juta dan Rp24 juta. Dengan pengelolaan dan lokasi yang tepat, modal mitra diproyeksikan dapat kembali dalam waktu kurang lebih tiga bulan.

Keunggulan lain SEGARA adalah konsep penyajian terbuka. Konsumen dapat melihat langsung proses pembuatan minuman oleh peracik. Transparansi tersebut menjadi bagian dari strategi membangun kepercayaan terhadap kualitas dan kebersihan produk.

Menangkap Peluang

Supriyanto bersama Aminudin dan Reaksi Galaksi TV Bambang Sartono dan Roy Kurniadi

Bagi Supriyanto, setiap kondisi ekonomi selalu memiliki dua sisi: ancaman dan peluang. Pengusaha dituntut tidak hanya melihat tekanan pasar, tetapi juga membaca kebutuhan baru yang muncul di tengah perubahan.

“Dalam setiap kondisi, termasuk krisis, selalu ada peluang. Persoalannya adalah bagaimana kita mampu melihat dan memanfaatkan peluang itu dengan tepat,” tegasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa pengusaha tidak dapat berjalan sendiri. Pemerintah, organisasi pengusaha, lembaga keuangan, komunitas usaha, dan pelaku UMKM harus membangun ekosistem yang saling mendukung.

Supriyanto yang juga Ketua BPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Blora,  menilai Kabupaten Blora memiliki sumber daya alam besar, mulai dari minyak, gas, hutan, pertanian hingga mineral. Kekayaan tersebut semestinya dapat memberikan manfaat ekonomi lebih luas apabila pelaku usaha lokal memperoleh ruang untuk terlibat dalam pengelolaan dan rantai pasoknya.

“Blora memiliki kekayaan yang luar biasa. Harapannya, pengusaha lokal dapat ikut terlibat sehingga manfaat sumber daya alam benar-benar dirasakan masyarakat daerah,” katanya.

Menurut Supriyanto, kolaborasi antara pemerintah dan pengusaha diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat perputaran ekonomi lokal, serta membantu menyelesaikan persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat.

Naik Kelas

Selain mengembangkan bisnis, Supriyanto aktif mendorong pengusaha dan pelaku UMKM di Blora untuk bergabung dalam organisasi serta jaringan bisnis. Melalui jaringan tersebut, pelaku usaha dapat bertukar pengalaman, memperluas pasar, meningkatkan kapasitas manajemen, dan memperoleh akses kolaborasi.

Ia menegaskan bahwa organisasi pengusaha tidak hanya diperuntukkan bagi pemilik perusahaan besar. Pelaku UMKM yang baru merintis usaha juga perlu masuk ke dalam ekosistem tersebut agar dapat belajar dan meningkatkan skala bisnis.

“Saya juga memulai sebagai pelaku UMKM. Dengan bergabung dalam jaringan, kita dapat belajar, meningkatkan kemampuan, memperluas relasi, dan membuka peluang ekspansi,” ungkapnya.

Perjalanan Supriyanto menunjukkan bahwa modal finansial bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan. Keberanian mengambil risiko, kemampuan membaca pasar, konsistensi menjaga kualitas, disiplin mengelola keuangan, serta kemauan belajar dari kegagalan menjadi landasan yang lebih menentukan.

Dari modal Rp2 juta dan sebuah lapak sosis bakar, Supriyanto membangun SEGARA menjadi jaringan usaha yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia. Kisah tersebut tidak sekadar berbicara mengenai pertumbuhan aset, melainkan tentang keberanian untuk kembali berdiri setelah berkali-kali gagal. (@bangsar/01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *