Keterbatasan bukan alasan berhenti; desa harus dibangun dengan keberanian, kreativitas, dan pengabdian.”
BLORA, GALAKSI TV.COM : Hidup tidak selalu memberi Sadi jalan yang lapang. Sejak usia muda, lelaki kelahiran Blora, 30 Maret 1974 itu telah kehilangan kedua orang tuanya. Pendidikan formalnya terbatas, sementara tuntutan hidup memaksanya belajar lebih cepat tentang kerja keras, tanggung jawab, dan keberanian mengambil keputusan.
Dari perjalanan itulah kini tumbuh satu asa baru: membangun Desa Tawangrejo, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, melalui keberanian maju sebagai bakal calon kepala desa.

Bagi Sadi, rencana majunya untuk menjadi bakal calon kepala desa, bukan sekadar perebutan jabatan. Ia membawa pengalaman hidup seorang anak desa yang pernah berada pada titik sulit, merantau, bekerja serabutan, membangun usaha, lalu kembali membawa gagasan ekonomi untuk kampung halaman.
“Orang tua saya berpesan, jadilah orang yang berguna bagi orang lain dan jangan pernah melupakan desa.” Ujar Sadi saat diajak bicang-bincang suatu sore di sebuah gazebo rumah warga di Dukuh Nglencong, Tawangrejo, Kunduran baru-baru ini.
Dua pesan orang tuanya itu, menurut Sadi, terus menjadi pelecut hidupnya yang terus membara hingga hari ini.
Dari Cilok, Es Lilin hingga Dunia Usaha
Perjalanan hidup Sadi jauh dari cerita kemapanan sejak awal. Setelah menjadi yatim piatu, ia harus bertahan sekaligus ikut memikirkan pendidikan adiknya. Ia pernah berjualan cilok dan es lilin, bekerja serabutan di luar daerah, menjadi pekerja tambang hingga berkecimpung di pekerjaan konstruksi.
Pengalaman lapangan tersebut kemudian menjadi pijakan baginya memasuki dunia usaha dan kontraktor. Kini, ia juga terlibat dalam pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui dua SPPG di kawasan Tamanrejo dan Kunduran.
Bagi suami Winarsih, masa sulit itu bukan bagian kehidupan yang ingin dilupakan. Justru dari sana terbentuk pandangannya bahwa pembangunan desa seharusnya tidak hanya berbicara tentang proyek fisik.
Pembangunan harus membuat warga mempunyai kesempatan bekerja, berusaha, dan memperoleh nilai tambah dari potensi desanya sendiri.
Itulah gagasan yang ingin dibawanya ke Tawangrejo.
Kades Harus Kreatif

Tantangan pemerintahan desa ke depan tidak ringan. Ruang fiskal desa menghadapi tekanan akibat berkurangnya dukungan Dana Desa. Dalam kondisi demikian, menurut Sadi, kepala desa tidak cukup hanya mempunyai kemampuan administratif.
Pemimpin desa dituntut memahami manajemen pemerintahan, manajemen keuangan, pengembangan aset dan penciptaan sumber Pendapatan Asli Desa (PADes).
Ia memandang ketergantungan pembangunan hanya terhadap Dana Desa harus mulai dikurangi dengan memperkuat aset produktif serta menciptakan ekosistem ekonomi desa. Materi gagasannya secara khusus menempatkan kreativitas kepala desa sebagai kunci menghadapi pemangkasan anggaran.
“Ketika Dana Desa mengecil, pembangunan tidak boleh ikut mengecil. Pemerintah desa harus lebih kreatif mencari sumber ekonomi baru.” jelasnya.
Salah satu modal yang dilihat Sadi adalah aset desa berupa 12 kios yang telah dibangun sejak sekitar tahun 2000. Ia ingin pengelolaannya dioptimalkan melalui BUMDes dan diprioritaskan agar dapat membuka ruang usaha bagi warga Tawangrejo.
Lokasinya dinilai strategis karena Tawangrejo berada di kawasan yang berhubungan dengan desa-desa di wilayah Kunduran dan Ngawen. Dari titik tersebut, ia mempunyai gagasan mengembangkan pasar rakyat dan membangun sinergi antara kios desa, BUMDes, koperasi desa serta kegiatan ekonomi masyarakat.
Jangan Hanya Jadi Pasar
Salah satu garis besar pemikiran Sadi adalah menjadikan Tawangrejo bukan sekadar tempat produk dari luar dijual, tetapi desa yang mampu memproduksi dan memasok kebutuhan ekonominya sendiri.
Pertanian menjadi perhatian utama karena sebagian besar warga menggantungkan kehidupan dari sektor tersebut. Persoalan jalan usaha tani, pengairan dan sarana produksi ingin ditempatkan sebagai prioritas.
Namun ia ingin melangkah lebih jauh. Beras dari petani, telur dan ayam dari peternak serta produk UMKM desa diarahkan agar dapat membangun jaringan pemasaran melalui BUMDes, koperasi desa dan SPPG. Dengan mekanisme tersebut, belanja ekonomi yang muncul di sekitar program pemerintah diharapkan lebih banyak berputar di tingkat lokal.
“Konsepnya sederhana: uang yang beredar di desa sebisa mungkin kembali menjadi pendapatan warga desa” jelasnya.
Jika kebutuhan beras tersedia dari petani Tawangrejo, tidak perlu seluruhnya dibeli dari luar. Jika telur dan daging ayam dapat diproduksi warga, peternak lokal harus mendapat ruang menjadi pemasok.
Dengan pendekatan tersebut, BUMDes tidak sekadar menjadi nama kelembagaan, tetapi diarahkan menjadi instrumen bisnis yang membuka lapangan kerja dan membentuk rantai ekonomi baru.
Menghidupkan Dukuhan
Tawangrejo terdiri atas sekitar 10 dukuhan. Bagi Sadi, pembangunan tidak boleh terkonsentrasi di pusat desa.
Ia menawarkan pengelolaan hasil lelang bondo desa atau tanah desa dengan distribusi manfaat sampai tingkat dukuhan. Pendapatan dari aset tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan kegiatan masyarakat dan pembangunan wilayah masing-masing dukuhan.
Setiap dukuhan didorong mempunyai konsep pengembangan ekonominya sendiri.
Dengan demikian, pembangunan tidak hanya menunggu daftar proyek dari pemerintah desa, tetapi tumbuh dari kebutuhan dan potensi masyarakat di bawah.
Sadi juga menggagas dukungan pembiayaan hingga Rp50 juta per dukuhan dalam bentuk dana talangan untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan finansial saat berhubungan dengan perbankan. Langkah itu akan dilanjutlan dengan rencana mengembangkan kolaborasi CSR dengan lembaga perbankan yang memiliki aktivitas ekonomi di desa.
Dapat Panggung Ekonomi

Visinya juga menyentuh kelompok pemuda. Sadi melihat kegiatan kemah pemuda tahunan dapat dikembangkan bukan hanya sebagai kegiatan sosial, tetapi menjadi ruang ekonomi kreatif bagi Karang Taruna.
Pengelolaan konsumsi, parkir dan aktivitas pendukung kegiatan dapat diserahkan kepada pemuda sehingga organisasi kepemudaan mempunyai sumber pendapatan sendiri dan tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah desa.
Baginya, pemberdayaan berarti memberikan ruang pengelolaan, bukan sekadar memberikan bantuan.
Penguatan ekonomi tentu tidak dapat berjalan tanpa infrastruktur. Jalan desa, jalan pertanian, irigasi dan pengairan menjadi kebutuhan mendasar yang banyak berkaitan langsung dengan produktivitas petani.
Dalam situasi terbatasnya Dana Desa, Sadi menilai pemerintah desa harus aktif mencari sumber pembiayaan alternatif melalui APBD kabupaten, bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah maupun program pemerintah pusat.
Artinya, kemampuan kepala desa membangun komunikasi lintas pemerintahan akan menjadi semakin penting. Kades tidak cukup hanya menunggu anggaran masuk. Ia harus mampu membawa proposal, menjalin komunikasi, membuka jejaring dan memperjuangkan kepentingan masyarakat hingga keluar batas administratif desa.
Transparansi sebagai Penguat
Gagasan pembangunan tersebut, menurut Sadi, harus disertai tata kelola yang terbuka. Informasi pendapatan desa, hasil lelang aset hingga pelaksanaan pembangunan ingin dibuat lebih mudah diketahui masyarakat melalui jalur RT, RW, tokoh masyarakat dan forum desa.
Ia juga menempatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai lembaga pengawasan yang harus berfungsi sebagaimana mandatnya. Karena pembangunan yang besar tanpa transparansi justru berpotensi melahirkan persoalan baru.
Pada akhirnya, perjalanan Sadi seperti membentuk sebuah lingkaran. Dari Tawangrejo ia berangkat sebagai anak muda dengan keadaan serba terbatas. Ia meninggalkan desa untuk bertahan hidup, menjual makanan kecil, menjadi pekerja kasar, masuk ke dunia konstruksi, lalu membangun usaha.
Kini arah langkahnya kembali menuju desa. Bukan karena Tawangrejo tidak mempunyai persoalan. Justru karena persoalannya semakin kompleks.
Dana pembangunan terbatas. Petani membutuhkan infrastruktur. Pemuda memerlukan lapangan usaha. Aset desa membutuhkan pengelolaan profesional. BUMDes harus produktif. Dukuhan membutuhkan pemerataan. Pemerintahan desa juga harus transparan.
Sadi memahami tidak ada kepala desa yang mampu menyelesaikan semua persoalan sendirian. Tetapi pengalaman hidup mengajarinya satu hal: keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti.
Dari seorang anak yatim yang pernah menjajakan cilok dan es lilin, jalan panjang itu kini membawanya pada satu cita-cita yang jauh lebih besar membangun tanah tempat ia berasal.
Pesan orang tuanya pun seperti menemukan kembali maknanya: jadilah manusia yang berguna, dan jangan pernah melupakan desa. Bagi Sadi, maju dalam kontestasi Kepala Desa Tawangrejo bukanlah akhir perjalanan.
Itu justru awal dari pertanyaan terbesar yang harus dijawab dengan kerja: “Jika desa telah membesarkan kita, apa yang bisa kita kembalikan untuk desa?” ungkap Sadi (@bangsar26/01)













Leave a Reply